Laba Bersih BEI Tembus Rp 1 Triliun pada 2025, Tertinggi Sepanjang Sejarah

3 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyampaikan, kinerja pasar modal Indonesia pada sepanjang 2025 mampu tumbuh positif, di tengah tantangan dinamika global. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu menembus level tertinggi di 8.711 dengan kapitalisasi pasar juga mencapai rekor puncak sebesar Rp 16.004 triliun.

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menjelaskan, tahun 2025 menjadi periode yang penuh dinamika bagi pasar modal Indonesia. Pada paruh pertama tahun 2025, pasar menghadapi tekanan eksternal yang dipicu meningkatnya tensi perang dagang akibat kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS), pelemahan nilai tukar rupiah, serta berlanjutnya ketidakpastian geopolitik global. 

Kondisi tersebut mendorong meningkatnya volatilitas pasar. Hingga IHSG sempat terkoreksi ke level 5.996 pada awal April 2025 dan bursa memberlakukan penghentian sementara aktivitas perdagangan saham atau trading halt.

“Dalam menghadapi kondisi tersebut, BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO) melakukan koordinasi intensif serta menerapkan berbagai kebijakan stabilisasi pasar. Antara lain penguatan komunikasi dengan pelaku pasar, penyesuaian kebijakan buyback saham tanpa persetujuan RUPS, penyesuaian batas Auto-Rejection Bawah (ARB), serta penyempurnaan ketentuan trading halt guna menjaga stabilitas pasar dan meredam volatilitas yang berlebihan,” terang Jeffrey dalam konferensi pers Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) BEI, Senin (29/6/2026). 

Kemudian, memasuki paruh kedua tahun 2025, kondisi pasar lantas berangsur pulih, seiring membaiknya sentimen global serta didukung berbagai kebijakan domestik yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. 

“Pemulihan tersebut tercermin dari IHSG yang mencatatkan 24 kali All-Time High (ATH) sepanjang tahun dengan level tertinggi 8.711, dengan kapitalisasi pasar mencapai rekor tertinggi sebesar Rp 16.004 triliun pada 8 Desember 2025,” terangnya.

Aktivitas perdagangan juga menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Sepanjang tahun 2025, Rata-Rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) saham mencapai Rp 18,1 triliun, sedangkan transaksi produk non-saham mencapai Rp 7,6 triliun. 

Adapun, pasar obligasi di BEI, melalui mekanisme Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA), mencatat total volume transaksi mencapai Rp 1.375 triliun. Sementara nilai perdagangan karbon di Bursa Karbon (IDXCarbon) tercatat sebesar Rp 36,37 miliar.

Dari sisi penghimpunan dana, BEI mencatatkan 26 perusahaan yang melakukan pencatatan saham baru (IPO) dengan total kapitalisasi pasar sebesar Rp 155,2 triliun pada saat pencatatan. Dana yang berhasil dihimpun melalui IPO mencapai sekitar Rp 18,1 triliun, meningkat 26 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kontribusi terbesar berasal dari sektor basic materials, diikuti sektor finansial dan infrastruktur. 

Jeffrey melanjutkan, selain melalui IPO saham, penghimpunan dana melalui Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) mencapai Rp 217,4 triliun. Sedangkan melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) dan waran mencapai Rp 43,7 triliun. Pencapaian tersebut dinilai semakin memperkuat fungsi pasar modal sebagai sumber pembiayaan yang komprehensif.  

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |