Menanggapi banyaknya konten dakwah yang menampilkan sosok buatan AI, Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) Nahdlatul Ulama (NU), KH Hodri Arief mengatakan, media sosial dan AI seperti pasar bebas gagasan, siapapun bisa menyampaikan apapun untuk kepentingan apapun.
"Tetapi kita mendorong para santri, masyarakat secara umum untuk melakukan klarifikasi tabayun, jadi itu (klarifikasi) sebetulnya merupakan tradisi yang ada dalam disiplin ilmu hadis, dalam disiplin di pesantren," kata Kiai Hodri kepada Republika di acara AI Teaching Power Impact Forum yang diselenggarakan oleh NU Care Global dan Microsoft, Senin (29/6/2026)
Kiai Hodri mengatakan, tetapi kadang-kadang ketika cara menyampaikan dakwah menggunakan AI di media sosial itu menarik, masyarakat kadang-kadang jadi kehilangan sikap kritis dan menganggap itu sesuatu yang benar. Maka di sini masyarakat juga perlu belajar untuk memastikan apakah yang ada di media sosial itu betul-betul berdasarkan pada turos dan tradisi keilmuan dalam agama Islam, atau itu hanya sebagai pendapat yang sebetulnya secara instan didapat dari AI.
Ia menjelaskan, memang akan sulit membedakan apakah isi konten dakwah AI tersebut benar atau tidak jika penontonnya tidak memiliki kedalaman ilmu. Maka RMI menyarankan kepada para santri jangan pernah jauh-jauh dari tradisi pesantren.
Kiai Hodri menegaskan, bukan berarti sikap kritis melakukan krlarifikasi adalah sikap memusuhi apa yang beredar di media sosial. Tetapi dengan berpegang pada tradisi pesantren, Insya Allah sikap kritis untuk menerima atau menolak itu akan didasari pengetahuan yang ada di pesantren.
Mengenai fenomena bertanya soal agama kepada AI, Kiai Hodri mengingatkan masyarakat pada umumnya bahwa AI hanya pengantar awal saja, bukan satu-satunya sumber yang bisa dijadikan sebagai landasan hukum.
Dalam Munas dan Konbes NU, ia menerangkan, diputuskan bahwa minta fatwa kepada AI itu tidak boleh. Jangankan AI yang bukan manusia, meminta fatwa kepada manusia saja tidak boleh sembarangan. Fatwa hanya boleh diminta dari orang yang berilmu dan memenuhi syarat untuk memberi fatwa.
"Jadi AI itu hanya pintu pertama, salah satu pintu pertama untuk mendapatkan informasi, artinya ketika kita mendapat informasi dari AI itu harus dicek ulang pada sumber-sumber yang lain juga," ujar Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah ini.

2 hours ago
3









































