
Oleh : Azis Subekti, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra
REPUBLIKA.CO.ID, Di suatu malam di tahun 610M ketika puasa ramadhan belum menjadi kewajiban bagi umat Nabi Muhammad itu, sunyi-sunyi tidak meminta disaksikan. Malam itu selanjutnya bertepatan dengan bulan ramadhan setelah tahun kedua hijriah (623M) sejak puasa ramadhan diwajibkan. Mekah tertidur dalam rutinitasnya sendiri: pasar yang riuh di siang hari, berhala-berhala yang diam di malam hari. Di lereng Jabal Nur, seorang lelaki memilih menjauh dari kebisingan yang sudah terlalu lama menganggap dirinya normal. Ia tidak datang membawa rencana. Ia datang membawa kegelisahan yang jujur-kegelisahan seorang manusia yang tidak lagi bisa berdamai dengan dunia sebagaimana adanya.
Gua Hira sempit. Tidak heroik. Tidak layak untuk peristiwa yang kelak mengubah sejarah. Tetapi justru di ruang yang tak menjanjikan apa pun itu, sejarah belajar satu pelajaran paling dasar: perubahan besar tidak dimulai dari panggung, melainkan dari kesunyian.
Dalam Ar-Raheeq Al-Makhtum karya Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, wahyu pertama dalam kalender hijriah, turun di bulan Ramadhan 610 M-jauh sebelum nabi berhijrah. Bukan sebagai hukum, bukan sebagai daftar larangan, melainkan sebagai perintah yang mengejutkan sekaligus membebaskan: Iqra’-bacalah.
Kata itu memotong sejarah seperti kilat. Ia tidak menyasar pedang, tidak mengangkat bendera, tidak memerintahkan pembalasan. Ia menyasar kesadaran. Seolah sejarah, yang selama ini ditulis oleh kekuatan dan garis keturunan, diminta berhenti sejenak dan belajar membaca dirinya sendiri.
“Iqra’” bukan perintah teknis. Ia adalah guncangan ontologis. Membaca apa? Dengan apa? Untuk siapa? Di hadapan seorang manusia yang tidak mendefinisikan dirinya sebagai pembaca, perintah itu terdengar seperti paradoks. Tetapi justru di situlah maknanya: membaca bukan keterampilan elit, melainkan tanggung jawab manusia untuk memahami asal-usul, tujuan, dan batasnya.
Ramadhan memberi konteks yang tidak kebetulan. Bulan ini kelak dikenal sebagai bulan menahan diri-dan wahyu pertama datang sebagai penahanan paling radikal: menahan kesombongan akal, menahan kebiasaan lama, menahan dorongan untuk segera menguasai. Sejarah tidak diajak berlari. Ia diajak berpikir.
Al-Mubarakfuri menulis peristiwa ini tanpa sensasionalisme. Tidak ada panggung kosmik yang berlebihan. Yang ada adalah seorang manusia yang gemetar-bukan karena takut pada cahaya, melainkan karena beban amanah yang tiba-tiba menuntut seluruh hidupnya. Di titik itu, wahyu tidak menghapus kemanusiaan; ia justru menegaskannya. Ketakutan bukan aib. Kegentaran bukan kegagalan. Ia adalah bukti bahwa kebenaran yang datang itu terlalu besar untuk ditelan tanpa jeda.
Sejarah sering salah paham tentang momen ini. Ia kerap dibaca sebagai awal agama, padahal ia juga adalah kritik terhadap peradaban. Dengan “Iqra’”, dunia diberi tahu bahwa keberhalaan bukan hanya patung, tetapi juga kebiasaan berpikir; bukan hanya sesaji, tetapi juga struktur yang mematikan empati. Membaca, dalam arti ini, adalah membongkar-lapis demi lapis-hingga manusia berani menatap dirinya tanpa topeng.
Turunnya Al-Quran menandai satu perubahan arah: dari kekuatan menuju makna, dari dominasi menuju kesadaran, dari kebiasaan menuju tanggung jawab. Wahyu tidak menuntut kemenangan cepat. Ia menuntut kesetiaan panjang. Ia tidak menjanjikan dunia yang segera berubah, tetapi menawarkan manusia yang bersedia berubah lebih dulu.
Maka, jika Ramadhan dikenang sebagai bulan Al-Qur’an, itu bukan karena banyaknya bacaan, melainkan karena keberanian untuk membaca dengan jujur-membaca diri, membaca zaman, membaca luka-luka yang selama ini ditutup rapat. Malam itu, sejarah tidak berteriak. Ia berbisik. Dan bisikan itu cukup kuat untuk mengguncang abad-abad setelahnya.
Di Gua Hira, sejarah belajar membaca.
Dan sejak itu, dunia tidak pernah benar-benar sama.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

3 hours ago
1















































