Husnul Hatima
Agama | 2026-07-02 23:59:21
Media sosial tidak hanya menghubungkan manusia, tetapi juga dapat menjauhkan hati dari ketenangan jika tidak digunakan dengan bijak.
Di era digital, media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Hampir setiap orang menghabiskan waktu untuk melihat unggahan teman, mengikuti tren, atau membagikan momen terbaik dalam hidupnya. Di balik berbagai manfaat tersebut, media sosial juga membawa tantangan yang sering kali tidak disadari, yaitu munculnya penyakit ruhani yang perlahan menggerogoti hati.
Pernahkah kita merasa iri ketika melihat keberhasilan orang lain? Atau merasa kecewa karena unggahan kita tidak mendapatkan banyak respons? Bahkan, tanpa disadari kita terkadang melakukan sesuatu hanya agar mendapat pujian dan pengakuan dari orang lain. Perasaan-perasaan seperti ini dapat menjadi tanda bahwa hati sedang membutuhkan muhasabah.
Dalam kajian akhlak tasawuf, penyakit ruhani merupakan sifat-sifat tercela yang tumbuh di dalam hati dan dapat merusak hubungan manusia dengan Allah maupun dengan sesama. Penyakit ini tidak tampak secara fisik, tetapi dampaknya sangat besar terhadap perilaku dan ketenangan jiwa.
Salah satu penyakit ruhani yang sering muncul akibat penggunaan media sosial adalah riya', yaitu melakukan suatu amal agar dipuji manusia. Ketika setiap ibadah, sedekah, atau kebaikan selalu ingin dipublikasikan demi memperoleh pengakuan, maka keikhlasan dapat terkikis sedikit demi sedikit.
Selain riya', media sosial juga dapat memunculkan hasad atau iri hati. Melihat pencapaian orang lain tanpa disertai rasa syukur sering kali membuat seseorang merasa kurang, padahal setiap orang memiliki jalan hidup dan rezeki yang berbeda. Jika dibiarkan, rasa iri dapat berkembang menjadi kebencian dan menghilangkan ketenangan hati.
Tidak hanya itu, penyakit ujub juga mudah tumbuh ketika seseorang terlalu bangga terhadap kelebihan yang dimiliki. Banyaknya pengikut, komentar positif, maupun popularitas di media sosial dapat membuat seseorang merasa lebih baik daripada orang lain. Padahal, segala nikmat yang dimiliki sejatinya adalah titipan dari Allah Swt.
Lalu, bagaimana cara mengatasinya?
Tasawuf mengajarkan pentingnya muhasabah, yaitu introspeksi diri secara terus-menerus. Muhasabah membantu seseorang menyadari niat di balik setiap perbuatannya. Sebelum mengunggah sesuatu, kita dapat bertanya kepada diri sendiri, "Apakah ini dilakukan karena Allah atau hanya ingin mendapatkan pujian manusia?"
Selain muhasabah, memperbanyak zikir, menjaga keikhlasan, serta membatasi penggunaan media sosial juga menjadi langkah penting untuk menjaga kebersihan hati. Menggunakan media sosial sebagai sarana berbagi ilmu, inspirasi, dan kebaikan akan jauh lebih bermanfaat dibanding menjadikannya sebagai tempat mencari validasi.
Pada akhirnya, media sosial bukanlah sesuatu yang harus dijauhi. Yang perlu dijaga adalah bagaimana hati tetap bersih ketika menggunakannya. Teknologi akan terus berkembang, tetapi ketenangan jiwa hanya dapat diraih ketika hati selalu mengingat Allah dan mampu mengendalikan hawa nafsu.Mari jadikan media sosial sebagai ladang amal, bukan ladang penyakit hati. Sebab, kebahagiaan sejati tidak diukur dari banyaknya pengikut, jumlah tanda suka, atau komentar yang diterima, melainkan dari hati yang ikhlas, tenang, dan selalu dekat kepada Allah Swt.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

15 hours ago
12













































