Ilustrasi menara Masjid.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kolumnis dan wartawan Mesir, anggota Persatuan Wartawan Mesir, Mahmoud Sultan, menilai bahwa kegelisahan sebagian kalangan Eropa terhadap semakin banyaknya masjid dan menara masjid bukan terutama disebabkan oleh persoalan teologis atau pertarungan agama, melainkan oleh kekhawatiran terhadap perubahan identitas budaya dan peradaban Eropa.
Dalam artikelnya yang diterbitkan Aljazeera, dikutip Selasa (28/7/2026), Sultan mengawali penjelasannya dengan pengalaman pribadi saat berkunjung ke Beirut, Lebanon. Ia mengamati bagaimana Masjid Mohammad Al-Amin berdiri berdampingan dengan Katedral Saint George di pusat kota.
Menurutnya, kesetaraan tinggi bangunan kedua rumah ibadah tersebut mencerminkan keseimbangan identitas yang selama ini menjadi fondasi kehidupan Lebanon.
"Setiap upaya mengubah identitas tersebut, bahkan hanya pada level arsitektur, dapat mengembalikan Lebanon pada pertanyaan lama tentang koeksistensi, penerimaan terhadap yang lain, dan keseimbangan antara komunitas-komunitas yang ada," tulis Sultan.
Pengalaman serupa ia rasakan saat pertama kali mengunjungi Istanbul, Turki. Sebelum tiba, ia mengira Turki merupakan negara yang sepenuhnya sekuler sejak penghapusan Kekhalifahan Utsmaniyah pada 1924. Namun kesan itu berubah begitu ia keluar dari Bandara Atatürk.
"Menara-menara masjid membelah langit dan terlihat dari jarak beberapa kilometer. Dari identitas arsitekturnya saja, saya langsung merasakan bahwa ini adalah negeri Muslim," ungkapnya.
Menurut Sultan, pengamatan di Beirut dan Istanbul menjadi pintu masuk untuk memahami cara pandang Eropa terhadap simbol-simbol Islam yang semakin tampak di ruang publik.
Identitas yang dipertahankan
Mahmoud Sultan menegaskan bahwa setiap negara memiliki identitas arsitektur yang dianggap sebagai bagian dari jati dirinya. Karena itu, perdebatan mengenai masjid, menara, atau simbol keagamaan lainnya tidak selalu berkaitan dengan keyakinan agama semata.

4 hours ago
5
















































