Mengapa Pesantren Tetap Relevan di Tengah Disrupsi Digital?

5 hours ago 8

Oleh: Arizqi Ihsan Pratama, Dosen Universitas Darunnajah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kemajuan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Cara belajar, bekerja, berkomunikasi, bahkan cara memperoleh pengetahuan mengalami perubahan yang sangat cepat. Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), media sosial, big data, dan berbagai platform pembelajaran daring menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi dunia pendidikan.

Di tengah arus perubahan tersebut, muncul pertanyaan yang cukup sering dikemukakan: apakah pesantren masih relevan pada era digital?

Pertanyaan ini penting untuk dijawab karena sebagian kalangan memandang bahwa lembaga pendidikan tradisional akan semakin terpinggirkan oleh perkembangan teknologi. Namun, kenyataan menunjukkan hal yang berbeda. Pesantren justru tetap bertahan, berkembang, dan menjadi salah satu institusi pendidikan yang memiliki daya adaptasi tinggi. Bahkan dalam banyak hal, pesantren menawarkan nilai-nilai yang semakin dibutuhkan oleh masyarakat modern.

Era digital tidak hanya membawa kemudahan akses informasi, tetapi juga melahirkan berbagai persoalan sosial. Penyebaran hoaks, ujaran kebencian, cyberbullying, kecanduan gawai, budaya instan, dan menurunnya kualitas interaksi sosial menjadi fenomena yang semakin sering dijumpai. Kemajuan teknologi ternyata tidak selalu berjalan seiring dengan kematangan moral.

Dalam konteks ini, pesantren memiliki keunggulan yang sulit digantikan oleh teknologi. Pendidikan pesantren tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, akhlak, dan spiritualitas. Sistem pendidikan berbasis keteladanan (uswah hasanah), pembiasaan, kedisiplinan, dan pengawasan yang berlangsung selama dua puluh empat jam menciptakan lingkungan pendidikan yang komprehensif.

Thomas Lickona (2012) menjelaskan bahwa pendidikan karakter yang efektif harus mencakup aspek moral knowing, moral feeling, dan moral action. Ketiga aspek tersebut secara alami telah lama dipraktikkan dalam tradisi pendidikan pesantren. Santri tidak hanya belajar mengenai nilai-nilai kebaikan, tetapi juga dibiasakan untuk menghayati dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika banyak lembaga pendidikan menghadapi kesulitan dalam membangun karakter peserta didik di tengah dominasi teknologi digital, pesantren justru menawarkan model pendidikan yang menempatkan pembentukan akhlak sebagai inti proses pembelajaran.

Pendidikan Holistik yang Tetap Dibutuhkan

Salah satu kritik terhadap sistem pendidikan modern adalah kecenderungannya yang terlalu menekankan aspek kognitif dan pencapaian akademik. Akibatnya, banyak lulusan yang memiliki kemampuan intelektual tinggi tetapi kurang memiliki ketahanan mental, kepedulian sosial, dan integritas moral.

Pesantren sejak awal mengembangkan pendekatan pendidikan yang lebih menyeluruh. Santri dibimbing untuk mengembangkan kecerdasan intelektual, emosional, sosial, dan spiritual secara bersamaan. Mereka belajar hidup sederhana, mandiri, bertanggung jawab, serta mampu berinteraksi dalam kehidupan kolektif.

Konsep pendidikan seperti ini sejalan dengan gagasan pendidikan holistik yang berkembang dalam literatur pendidikan kontemporer. Miller (2007) menegaskan bahwa pendidikan harus mengembangkan manusia secara utuh, bukan hanya aspek akademiknya. Pesantren telah menerapkan prinsip tersebut jauh sebelum istilah pendidikan holistik menjadi populer dalam dunia pendidikan modern.

Di era yang penuh ketidakpastian, kemampuan beradaptasi, bekerja sama, mengelola emosi, dan memiliki tujuan hidup yang jelas menjadi kompetensi yang tidak kalah penting dibandingkan kemampuan teknis. Nilai-nilai tersebut telah lama menjadi bagian dari budaya pesantren.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |