REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pagi di Kota Mataram pada hari kedelapan Syawal memiliki caranya sendiri. Takbir memang tak lagi menggelegar seperti malam pertama Idul Fitri, namun jejaknya masih terasa di udara, seperti aroma dupa yang bertahan lama setelah api padam.
Di pasar-pasar tradisional, dari Mandalika hingga Kebon Roek, dari Pagesangan hingga gang-gang sempit yang hanya dikenal oleh warga setempat, ada pertanda yang lebih nyata dari sekadar kalender: aroma janur segar.
Perempuan-perempuan dengan tangan cekatan memilih daun kelapa muda, menekan-nekan ujungnya untuk menguji kesegaran. Pedagang ketupat melipat anyaman segi empat dengan gerakan yang sudah meresap ke dalam otot, tak lagi perlu dipikirkan. Aktivitas yang tampak biasa itu adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar persiapan makan siang. Ia adalah ritus. Ia adalah Lebaran Topat.
Di Pulau Lombok, Syawal tidak berakhir pada hari pertama. Ia memiliki babak kedua, yang bagi masyarakat Sasak justru merupakan babak yang paling bermakna. Lebaran Topat hadir tujuh hari setelah Idul Fitri, tepat saat puasa sunah enam hari di bulan Syawal rampung ditunaikan.
Angka tujuh itu bukan kebetulan. Ia dipahami sebagai simbol kesempurnaan, jeda yang diperlukan sebelum syukur bisa diungkapkan dengan sepenuh-penuhnya. Di ruang antara hari pertama dan hari ketujuh itulah agama dan adat bertemu, saling menguatkan, membentuk wajah Islam yang membumi, ramah, dan tak pernah merasa perlu memilih antara keduanya.
Makam, Doa, dan Rebutan Berkah
Pagi hari Lebaran Topat selalu dimulai dari perjalanan menuju ruang-ruang sakral. Di Makam Loang Baloq dan Makam Bintaro, ribuan warga berdatangan sejak fajar belum sepenuhnya cerah. Mereka membawa dulang, nampan besar berisi ketupat yang dibungkus janur, opor ayam yang masih mengepul, telur rebus, dan kue "bantal" yang bentuknya mengingatkan pada kesenangan masa kecil.
Zikir mengalun, menyatu dengan bunyi ombak yang berhembus dari laut tidak jauh dari sana. Di antara doa-doa itu, ada ritual ngurisan, potong rambut bayi untuk pertama kalinya, sebuah simbol harapan dan penyerahan diri kepada Yang Maha Kuasa.
Lalu ada begibung, tradisi makan bersama di mana semua orang duduk sejajar di atas tikar yang sama, tanpa peduli siapa yang berseragam dan siapa yang bertelanjang kaki. Dalam lingkaran begibung, tidak ada yang lebih tinggi dari yang lain.
Asisten I Setda Kota Mataram, H Lalu Martawang, menyebutnya dengan cara yang paling sederhana namun paling tepat: "Lebaran Topat menjadi salah satu tradisi yang harus dipertahankan karena sarat dengan nilai religi dan mempererat tali silaturahmi."
Puncak kemeriahan tiba dalam tradisi bejuretan, momen ketika ratusan ketupat yang disusun menjadi Topat Agung diperebutkan oleh ratusan tangan sekaligus. Suara tawa dan seruan kegirangan pecah di udara.
sumber : Antara

7 hours ago
4
















































