REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Jawa Tengah (Jateng) Ahmad Aziz mengimbau warga Jateng tak berduyun-duyun mencari peluang pekerjaan ke luar Jateng pasca-Lebaran. Hal itu mengingat kerap terjadinya gelombang urbanisasi selepas musim mudik Lebaran.
"Pak Gubernur punya komitmen besar untuk membuka lapangan pekerjaan di Jawa Tengah," ujar Aziz ketika ditanya soal potensi urbanisasi warga Jateng pasca Lebaran, Ahad (29/3/2026).
Dia menjelaskan, komitmen membuka lapangan pekerjaan tersebut diwujudkan Gubernur Jateng dengan berupaya menawarkan dan menarik investasi ke wilayah Jateng. Terutama di industri-industri padat karya.
"Padat karya itu yang banyak membutuhkan tenaga kerja. Maka harapannya dari Pak Gubernur, untuk perusahaan-perusahaan yang telah membuka kita lapangan pekerjaan di Jawa Tengah ini agar diisi warga Jawa Tengah," kata Aziz.
Kendati demikian, Aziz menyebut, ketersediaan lapangan kerja harus tetap diimbangi dengan kompetensi yang dibutuhkan industri terkait. "Pak Gubernur selalu menyampaikan, dari vokasi SMK, termasuk perguruan tinggi, dan juga dari BLK-BLK, ini menjadi tempat untuk memberikan bekal pelatihan, baik yang terkait dengan keterampilannya maupun soft skill-nya, untuk bisa masuk dunia industri, khususnya di Jawa Tengah," ucapnya.
"Namun demikian, Bapak Gubernur juga tidak melarang bagi warga Jawa Tengah yang akan bekerja di luar Jawa Tengah, bahkan ke luar negeri menjadi PMI atau menjadi TKI. Bekerja adalah pilihan, pemerintah atau negara memberikan perlindungan dan fasilitas," tambah Aziz.
Menurut Aziz, saat ini tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Jateng berada di kisaran empat persen atau setara 1.040.000 orang. Awal tahun ini, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jateng, Sakina Rosellasari, sempat menyampaikan industri padat modal mulai bergeliat di Jateng. Namun, dia mengatakan, Jateng masih membutuhkan investasi di industri padat karya guna memangkas angka pengangguran.
Sakina menerangkan, Pemprov Jateng memang menginginkan adanya investasi di industri padat modal. "Artinya Jawa Tengah tidak hanya memperhatikan padat karya, tapi padat modal pun kami menginginkan, dan itu sejalan dengan beberapa kawasan industri yang memang sudah mulai dilirik sektor-sektor yang padat modal," ucapnya ketika diwawancara di Kota Semarang, 22 Januari 2026 lalu.
Dia mencontohkan investasi di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal. "Jadi KITB, kemudian KEK Kendal, memang sudah mulai shifting ke yang padat modal," ujar Sakina seraya menyinggung soal telah adanya industri baterai dan panel surya di kedua kawasan industri tersebut.
Sakina menambahkan, di KEK Kendal, misalnya, terdapat perusahaan Indonesia BTR New Energy Material yang bergerak di industri baterai. Nilai investasinya pada triwulan IV 2025 mencapai Rp1,5 triliun.
"Padat modal itu sudah mulai menunjukkan realisasi investasinya," ujarnya.
Kendati demikian, Sakina mengatakan, Jateng masih membutuhkan investasi di bidang padat karya. Misalnya seperti industri alas kaki yang ekosistemnya memang telah terbentuk di Jateng.
"Jawa Tengah memang masih membutuhkan sektor padat karya. Karena dengan padat karya pasti akan membuka lapangan pekerjaan, banyak tenaga kerja, mengurangi angka pengangguran, dan pasti akan spread effect atau multiplier effect terhadap perekonomian di sekitarnya," ucap Sakina.

8 hours ago
5
















































