
Oleh : KH Bachtiar Nasir
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dentuman itu terdengar jauh di Teheran, tetapi gaungnya sampai ke Jakarta. Asap yang membubung di langit Iran bukan hanya pertanda serangan militer; ia adalah simbol retaknya akal sehat global. Ketika Amerika Serikat dan Israel kembali memilih jalan mesiu ketimbang diplomasi, dunia seperti dipaksa menonton satu babak lama: kekuatan besar yang merasa berhak menentukan nasib bangsa lain.
Kemarahan itu wajar. Sebab setiap bom yang dijatuhkan atas nama stabilitas justru menanam benih ketidakstabilan baru. Setiap dalih keamanan yang dikumandangkan, sering kali berujung pada luka sipil yang tak pernah masuk hitungan statistik resmi. Di balik manuver geopolitik itu, ada anak-anak yang kehilangan rumah, ada keluarga yang tercerai, ada masa depan yang digantungkan pada kepentingan strategis yang tak pernah mereka pilih.
Indonesia tidak bisa memalingkan wajah. Sebagai negeri dengan populasi Muslim terbesar di dunia, dan dengan amanat konstitusi untuk ikut menjaga ketertiban dunia, Jakarta tidak boleh menjadi penonton pasif di tribun sejarah. Presiden dan pemerintah harus membaca situasi ini bukan sekadar sebagai konflik jauh di Timur Tengah, melainkan sebagai ujian kepemimpinan moral.
Diplomasi Aktif: Jalan Tengah yang Tegas
Di tengah polarisasi Barat versus Timur, Syiah versus Sunni, sekutu versus musuh, Indonesia mesti berdiri di jalur yang jernih: jalur kemanusiaan. Inisiatif di level Organisasi Kerja Sama Islam dan Perserikatan Bangsa-Bangsa perlu segera digerakkan. Bukan untuk memperuncing blok-blok kekuatan, tetapi untuk mendesak penghentian agresi militer dan mencegah meluasnya perang terbuka.
Suara Indonesia harus tegas, bukan suara amarah yang membabi buta, melainkan suara nurani yang menolak penjajahan dalam bentuk apa pun. Jika stabilitas di Selat Hormuz terguncang, dunia akan merasakan dampaknya. Jalur energi global itu adalah urat nadi ekonomi internasional, termasuk bagi ketahanan energi Indonesia sendiri. Membiarkan eskalasi berlanjut sama saja dengan mempertaruhkan stabilitas global.
Mengantisipasi Gelombang Ekonomi
Realitasnya pahit: konflik di Teluk Persia hampir pasti mendorong lonjakan harga minyak mentah dunia. Jika benar kabar wafatnya pemimpin tertinggi Iran memperuncing situasi, maka gejolak politik dan militer akan berimbas pada pasar energi internasional.
Indonesia harus bersiap. Bantalan sosial perlu diperkuat, pasokan energi nasional diamankan, dan komunikasi publik dijaga agar tidak terjadi kepanikan. Krisis di Timur Tengah tidak boleh menjadi api yang membakar ruang dalam negeri. Jangan sampai tekanan ekonomi berubah menjadi perpecahan sosial.
Di sinilah kemandirian ekonomi diuji. Ketika dunia diguncang, bangsa yang kuat adalah bangsa yang memiliki fondasi dalam negeri yang kokoh.
Konsolidasi Umat: Menahan Diri dari Fitnah
Di tengah badai informasi, media sosial mudah berubah menjadi ladang perdebatan panas. Kematian atau ancaman terhadap tokoh besar sering memantik polemik teologis dan politik yang tak berujung. Namun inilah saatnya ulama dan tokoh bangsa merapatkan barisan.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

1 hour ago
1
















































