Ed Miliband.(Al Jazeera)
MENTERI Luar Negeri Inggris, Ed Miliband, memberikan penilaian tajam terhadap posisi diplomatik Israel saat ini. Ia menilai Israel semakin kehilangan dukungan dari berbagai negara akibat kebijakan militernya di Jalur Gaza dan perluasan permukiman di Tepi Barat.
Miliband menyatakan bahwa tindakan Israel selama konflik memicu kesadaran internasional lebih besar terhadap penderitaan warga Palestina. Hal ini, menurutnya, secara langsung merusak hubungan Israel dengan negara-negara yang selama ini menjadi mitra strategisnya.
"Pemerintah Israel kehilangan teman. Mereka tidak mendapatkan sekutu. Mereka justru kehilangan sekutu. Mereka kehilangan sekutu di mana-mana," tegas Miliband dalam wawancara di podcast The Rest is Politics.
Sanksi terhadap Permukiman Ilegal
Menlu Inggris menjelaskan bahwa London telah mengambil langkah konkret, termasuk menjatuhkan sanksi terhadap permukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki. Kebijakan ini diambil karena situasi di wilayah tersebut dianggap sudah tidak dapat dipertahankan lagi.
Miliband menekankan bahwa langkah tersebut bukan bertujuan mendelegitimasi negara Israel, melainkan menargetkan pendudukan ilegal yang mengancam prospek solusi dua negara. Ia secara khusus menyoroti rencana perluasan permukiman di kawasan E1, Tepi Barat, yang berisiko memutus akses antara Jerusalem Timur dan wilayah Tepi Barat lain.
"Status quo tidak berhasil. Kita harus menghentikan terorisme pemukim, pembersihan etnis oleh teroris pemukim. Itulah yang sedang terjadi di lapangan," ujarnya.
Keputusan Inggris itu juga didasarkan pada putusan Mahkamah Internasional (ICJ) tahun 2024 yang menyatakan pendudukan Israel di wilayah Palestina melanggar hukum internasional dan harus segera diakhiri.
Kritik Keras Kondisi Kemanusiaan di Gaza
Selain masalah di Tepi Barat, Miliband melontarkan kritik pedas terhadap krisis kemanusiaan di Jalur Gaza. Ia menyebut pembatasan akses bantuan kemanusiaan oleh Israel tampak seperti strategi yang disengaja.
Berdasarkan kesaksian para tenaga medis yang bekerja di sana, Miliband menggambarkan situasi di Gaza sebagai hal yang tak terucapkan dan mengerikan. Ia juga mempertanyakan efektivitas gencatan senjata yang diklaim selama ini.
"Sejak apa yang disebut gencatan senjata, 1.200 warga Palestina tewas. Itu bukanlah gencatan senjata yang berarti. Tidak ada yang dapat membenarkan apa yang telah terjadi di Gaza," tambahnya.
Pesan untuk Masyarakat Israel
Miliband mengungkapkan bahwa sikap kerasnya ini juga dipengaruhi oleh nilai-nilai kemanusiaan, bahkan ia sempat membayangkan mendiang ibunya akan sangat mengecam penderitaan warga Palestina jika masih hidup.
Menjelang pemilihan umum Israel yang dijadwalkan pada 27 Oktober, Miliband menegaskan bahwa Inggris ingin mengirimkan pesan yang jelas kepada masyarakat Israel. "Komunitas internasional tidak akan tinggal diam sementara pendudukan ini terus berlanjut," pungkasnya.
Sebelumnya, pemerintah Inggris mengumumkan kebijakan baru yang mencakup larangan impor barang dari permukiman ilegal serta sanksi bagi individu atau perusahaan yang mendukung ekspansi permukiman dan kekerasan terhadap warga Palestina. (Anadolu/I-2)


















































