Laras Maheswari
Lain-Lain | 2026-07-30 16:48:04
Pemerintah Provinsi Banten baru-baru ini mengumumkan langkah antisipasi menghadapi fenomena El Nino yang diprediksi bakal mengguncang musim kemarau tahun ini. Kabar yang membawa sedikit kelegaan: mereka menyiapkan pompa air untuk menjaga irigasi tetap mengalir. Tapi, jujur saja, sebagai orang yang cukup sering mengamati dinamika pertanian di negeri ini, saya bertanya-tanya—apakah ini cukup?
Cerita Lama yang Berulang
Setiap kali El Nino disebut, rasa cemas langsung menyergap petani di berbagai daerah. Ini bukan cerita baru. Fenomena memanasnya suhu muka laut di Samudra Pasifik ini sudah berkali-kali membuat petani gigit jari. Tahun 2015, 2019, dan 2023 jadi bukti pahit: ribuan hektar sawah puso, produksi padi jeblok, harga cabai meroket. Sekarang, tahun 2026, kita mendengar kabar yang sama lagi.
Yang menarik dari pernyataan Kepala Dinas PUPR Banten, Arlan Marzan, adalah semangatnya: "Apa pun caranya akan kita lakukan." Kalimat itu mengesankan. Tapi di sisi lain, ada pernyataan dari Kuncoro, Kepala Seksi Operasi UPTD Pengelolaan DAS Ciliman-Cisawarna, yang sedikit mengkhawatirkan: stok pompa baru lima unit, padahal kebutuhan idealnya tujuh. Selisih dua pompa mungkin terlihat kecil. Tapi untuk petani di Malingping, Wanasalam, Cikeusik, dan Cibaliung—lumbung padi Banten—dua pompa itu bisa berarti selisih antara panen dan gagal panen.
Pertanyaan yang Menggelitik
Saya mencoba melihat ini dari kacamata petani di Lebak. Mereka sudah puluhan tahun bergulat dengan musim kemarau. Setiap tahun ancamannya sama. Lalu setiap tahun pula jawabannya kurang lebih seragam: pompa, pompa, dan pompa.
Pertanyaan saya sederhana:
- Kenapa baru sekarang? El Nino bukanlah kejutan. BMKG sudah bisa memprediksi fenomena ini berbulan-bulan sebelumnya. Memang, menyiapkan pompa di menit-menit akhir tetap lebih baik daripada tidak sama sekali. Tapi alangkah lebih baik jika infrastruktur seperti embung, bendungan kecil, atau irigasi modern sudah disiapkan jauh-jauh hari.
- Apa rencana jangka panjangnya? Pompa air itu solusi jangka pendek yang darurat. Ibaratnya, ini kayak pakai kain untuk menambal bocor di bendungan. Sementara itu, perubahan iklim terus berjalan. El Nino diprediksi bakal makin sering dan makin kuat. Kalau kita terus mengandalkan pompa, kapan kita serius membangun sistem irigasi yang tahan banting?
- Bagaimana nasib petani di luar wilayah prioritas? Berita ini menyebut fokus di Malingping dan sekitarnya. Tapi bagaimana dengan petani di daerah lain yang juga terancam? Apakah ada peta rawan kekeringan yang jelas untuk seluruh Banten?
Sisi Baiknya
Saya tidak mau hanya kritik tanpa apresiasi. Setidaknya, ada beberapa hal yang patut diacungi jempol:
- Ada kesadaran dan kesiapan. Lebih baik siap dengan lima pompa daripada tidak punya sama sekali. Pemprov Banten setidaknya sudah bergerak, tidak diam menunggu bencana datang.
- Ada komitmen verbal yang kuat. Pernyataan Arlan Marzan menunjukkan bahwa pemerintah daerah tidak main-main dengan ancaman ini. "Insyaallah kita akan berbuat semaksimal mungkin agar petani mendapat air," katanya. Kalimat ini perlu diapresiasi, meskipuun kita semua berharap komitmen ini benar-benar diwujudkan di lapangan.
- Ada upaya koordinasi. Melibatkan UPTD Pengelolaan DAS menunjukkan bahwa antisipasi dilakukan secara struktural, tidak sekadar seremonial.
Yang Seharusnya Dilakukan ke Depan
Dari peristiwa ini, saya mencatat beberapa PR besar untuk Pemprov Banten dan pemerintah pusat:
- Bangun infrastruktur air jangka panjang. Embung, waduk kecil (cekdam), dan perbaikan jaringan irigasi harus jadi prioritas. Jangan menunggu krisis datang baru bergerak.
- Edukasi petani tentang varietas padi tahan kekeringan. Ada banyak varietas unggul yang sudah dikembangkan oleh Balitbangtan seperti Inpari 42, Situ Bagendit, atau Batutegi yang lebih toleran terhadap kekeringan. Ini perlu disosialisasikan.
- Sistem peringatan dini yang lebih baik. BMKG sudah punya data. Tinggal bagaimana data itu diterjemahkan menjadi aksi nyata di tingkat desa.
- Asuransi pertanian. Petani harus punya jaring pengaman kalau gagal panen benar-benar terjadi. Program AUTP (Asuransi Usaha Tani Padi) perlu diperluas jangkauannya.
Penutup
El Nino mungkin datang dan pergi. Tapi nasib petani tidak boleh dibiarkan seperti bola pingpong yang dimainkan ombak perubahan iklim. Pompa air memang membantu, tapi kita butuh lebih dari sekadar pompa. Kita butuh keberpihakan yang nyata, konsisten, dan berkelanjutan terhadap petani.
Semoga lima pompa yang disiapkan di Banten tidak hanya jadi angka di atas kertas. Semoga dua pompa tambahan yang dijanjikan benar-benar datang. Dan semoga musim kemarau tahun ini tidak membawa cerita duka baru dari sawah-sawah yang mengering.
Karena pada akhirnya, ketahanan pangan kita tidak dibangun dari janji—tapi dari air yang mengalir di irigasi, dari padi yang menghijau di sawah, dan dari kebijakan yang berpihak pada mereka yang setiap hari mempertaruhkan hidup di ladang.
Sumber:
- DetikNews - Pemprov Banten Antisipasi El Nino dengan Pompa Air — Berita utama yang menjadi dasar tulisan ini.
- BMKG - Informasi Iklim dan El Nino — Data fenologi El Nino dan dampaknya.
- Kementerian Pertanian RI - Varietas Padi Tahan Kekeringan — Informasi varietas unggul padi.
- DetikSulsel - Puncak Kekeringan di Makassar Diperkirakan September-Oktober 2026 — Konteks dampak El Nino di daerah lain.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

6 hours ago
3












































