Hendrikus Maku, SVD(Dok.pribadi)
SALAH satu mutiara terpenting dari syiar Maulid Nabi adalah kesadaran bahwa kemanusiaan harus selalu didahulukan di atas perbedaan identitas. Flores pascagempa memperlihatkan bahwa duka bersifat universal, dan karena itu respons keagamaan yang autentik adalah menghadirkan rahmah, memperkuat solidaritas sosial, serta merawat martabat manusia yang terluka. Dalam perspektif ini, agama tidak sekadar menjadi simbol identitas, melainkan energi moral untuk membangun kembali harapan bersama.
Kasih sayang yang melampaui sekat identitas
Salah satu pesan terdalam dari Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah bahwa kasih sayang tidak boleh dibatasi oleh sekat agama, suku, maupun status sosial. Nabi mengajarkan kepedulian kepada siapa pun yang membutuhkan, karena dalam pandangan Islam al-khalqu 'iyālullāh (seluruh makhluk adalah keluarga Allah), dan manusia yang paling dicintai-Nya adalah mereka yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Karena itu, hakikat Maulid bukan sekadar mengenang kelahiran Rasulullah, melainkan menghidupkan kembali semangat rahmah yang memuliakan martabat setiap manusia.
Realitas kasih sayang yang melampaui sekat identitas itu tampak nyata dalam berbagai gerakan kemanusiaan yang tumbuh pascagempa Flores. Pengalaman penulis bersama tim Justice, Peace, and Integrity of Creation (JPIC) SVD Ende dalam misi kemanusiaan di Pulau Palue pada 22-24 Agustus 2026 menghadirkan salah satu potret yang sangat inspiratif. Di tengah masyarakat yang sedang berjuang menghadapi dampak bencana, hadir sosok Mas Lalu, seorang muslim kelahiran Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang sejak hari-hari awal gempa memilih untuk tetap tinggal dan mengabdikan dirinya bagi warga terdampak. Ia tidak sekadar menyalurkan bantuan, tetapi juga membangun kedekatan sosial dengan masyarakat, mendengarkan kisah-kisah kehilangan mereka, serta terlibat langsung dalam proses pemulihan komunitas.
Dalam perspektif sosiologi agama, fenomena semacam ini memperlihatkan bahwa identitas keagamaan tidak selalu berfungsi sebagai penanda batas sosial, melainkan dapat menjadi sumber motivasi etis yang mendorong tindakan altruistik dan solidaritas kemanusiaan. Kehadiran Mas Lalu di tengah masyarakat Palue yang mayoritas berbeda latar belakang agama menunjukkan bahwa pada situasi krisis, nilai-nilai kemanusiaan sering kali berbicara lebih lantang daripada perbedaan identitas.
Di sana, agama menemukan makna sosialnya yang paling autentik, yakni sebagai kekuatan moral yang menggerakkan seseorang untuk hadir bagi sesama yang menderita tanpa terlebih dahulu mempertanyakan asal-usul, keyakinan, atau afiliasi mereka. Dengan kata lain, solidaritas yang diperlihatkan Mas Lalu menjadi cerminan konkret bahwa kemanusiaan universal bukan sekadar konsep normatif, melainkan kenyataan yang hidup dan bekerja di tengah masyarakat yang terluka.
Pada saat yang sama, gelombang solidaritas juga lahir dari ruang-ruang yang jauh dari pusat bencana. Teman-teman alumni dan mahasiswa seangkatan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berinisiatif membuka penggalangan dana untuk membantu para korban gempa di Flores. Secara geografis mereka berada ribuan kilometer dari lokasi bencana, tetapi secara moral mereka merasa dekat dengan penderitaan yang dialami saudara-saudara mereka di Flores. Fenomena ini memperlihatkan apa yang oleh filsuf Emmanuel Levinas disebut sebagai “etika tanggung jawab terhadap yang lain - L'éthique est responsabilité pour autrui”, yakni kesadaran bahwa penderitaan orang lain selalu memanggil respons moral dari diri kita. Dalam konteks tersebut, solidaritas bukan sekadar tindakan memberi, melainkan pengakuan bahwa kemanusiaan kita menjadi utuh ketika kita tidak membiarkan orang lain menderita sendirian.
Kisah Mas Lalu di Palue dan inisiatif penggalangan dana dari civitas akademika UIN Jakarta sesungguhnya menghadirkan wajah konkret dari pesan rahmatan lil-'alamin yang sering dikumandangkan dalam peringatan Maulid Nabi. Rahmah bukan konsep yang berhenti pada mimbar-mimbar keagamaan atau teks-teks normatif. Rahmat menemukan bentuknya yang paling otentik ketika ia menjelma menjadi tindakan nyata: menemani yang berduka, membantu yang kehilangan, menguatkan yang rapuh, dan menghadirkan harapan di tengah keputusasaan.
Agama sebagai jembatan kemanusiaan, bukan tembok
Di tengah kesibukan mendistribusikan bantuan bagi para korban gempa di Palue, Pater Marsel Vande, SVD, Koordinator Tim JPIC SVD Ende yang memimpin ke-24 relawan dalam misi kemanusiaan tersebut, sempat melontarkan refleksi yang sederhana namun sarat makna ketika berjumpa dengan Mas Lalu. “Cinta tidak menganut agama tertentu. Cinta itu universal, jiwa dari semua agama. Atas nama cinta kepada sesama yang menderita, kita bisa berkolaborasi dengan siapa saja, apa pun agamanya.”
Pernyataan ini sesungguhnya mengandung kedalaman filosofis dan sosiologis yang penting. Dalam situasi bencana, identitas-identitas partikular yang sering menjadi penanda perbedaan kehilangan signifikansinya di hadapan realitas penderitaan manusia yang bersifat universal. Gempa tidak membedakan agama, etnis, maupun status sosial korbannya; demikian pula rasa takut, kehilangan, dan duka tidak mengenal sekat-sekat identitas. Air mata manusia memiliki bahasa yang sama di mana pun ia jatuh. Karena itu, salah satu pelajaran paling berharga yang berulang kali diajarkan oleh berbagai bencana di Indonesia adalah lahirnya solidaritas lintas identitas sebagai ekspresi terdalam dari kemanusiaan. Pada momen-momen seperti itulah agama menemukan relevansi sosialnya yang paling otentik, bukan sebagai simbol pembeda, melainkan sebagai sumber nilai yang menggerakkan manusia untuk melampaui batas-batas kelompok demi merawat martabat sesamanya yang sedang terluka.
Dalam masyarakat yang semakin rentan terhadap polarisasi identitas, Maulid Nabi sesungguhnya mengajarkan bahwa kualitas keberagamaan diukur bukan dari seberapa kuat seseorang membela simbol kelompoknya, melainkan seberapa luas kasih sayangnya menjangkau sesama manusia. Kasih sayang yang sejati tidak bertanya, “Siapa dia?” sebelum membantu, tetapi bertanya, “Apa yang ia butuhkan?” sebelum bertindak. Ketika prinsip ini hidup dalam masyarakat, maka agama berfungsi sebagai jembatan kemanusiaan, bukan tembok pemisah.
Kemanusiaan sebagai jalan menuju ketuhanan
Banyak orang memahami agama terutama sebagai relasi vertikal antara manusia dengan Tuhan. Pandangan semacam ini memiliki akar dalam sejumlah tradisi pemikiran keagamaan modern, antara lain Friedrich Schleiermacher (1768-1834). Schleiermacher mendefinisikan agama sebagai das schlechthinnige Abhängigkeitsgefühl, yakni “perasaan ketergantungan mutlak” manusia kepada Yang Absolut. Baginya, inti agama terletak pada pengalaman batin manusia di hadapan Tuhan, bukan pertama-tama pada institusi sosial, moralitas, atau politik. Namun, tradisi kenabian Muhammad memperlihatkan sebuah horizon yang berbeda. Dalam tradisi Islam, cinta kepada sesama manusia bukanlah nilai yang terpisah dari iman. Nabi Muhammad SAW menegaskan, "Lā yu’minu aḥadukum ḥattā yuḥibba li akhīhi mā yuḥibbu linafsih” (tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri). Karena itu, memuliakan sesama manusia merupakan salah satu manifestasi konkret dari keimanan dan cinta kepada Allah.
Gempa Flores menghadirkan kesempatan untuk memahami kembali hubungan tersebut. Di tengah reruntuhan bangunan dan kecemasan masa depan, pengamalan agama menemukan bentuknya yang paling nyata: menguatkan yang lemah, mendampingi yang berduka, dan membantu mereka yang kehilangan harapan. Maulid Nabi tahun ini (1448 H / 2026 M) mengingatkan bahwa jalan menuju Tuhan tidak hanya ditempuh melalui ritual, tetapi juga melalui pelayanan kemanusiaan.Menolong korban bencana, memberikan dukungan psikologis kepada anak-anak, atau sekadar mendengarkan keluhan mereka yang sedang berduka merupakan bagian dari praktik religius yang memiliki nilai spiritual yang mendalam. Dengan demikian, kemanusiaan bukan wilayah yang terpisah dari agama. Justru kemanusiaan adalah jalan konkret untuk menghadirkan nilai-nilai ketuhanan dalam realitas.
Al-Khatimah: dari perayaan menuju transformasi sosial
Akhirnya, mutiara terindah yang dipancarkan syiar Maulid Nabi bagi Flores yang terluka adalah kesadaran bahwa kasih sayang selalu lebih kuat daripada perbedaan. Hakikat Maulid tidak terletak pada kemeriahan seremoni, pembacaan as-sīrah an-nabawiyyah, maupun lantunan al-madā’iḥ an-nabawiyyah semata, melainkan pada keberanian menghidupkan kembali nilai-nilai rahmah, keadilan, dan persaudaraan dalam kehidupan nyata. Flores pascagempa telah mengajarkan bahwa ketika manusia saling mengulurkan tangan, agama, suku, dan latar belakang tidak lagi menjadi tembok pemisah, melainkan jembatan solidaritas yang mempertemukan sesama dalam duka dan harapan.
Di sanalah moderasi beragama menemukan maknanya yang paling otentik: memuliakan martabat manusia, merawat yang terluka, dan berjalan bersama membangun masa depan yang lebih manusiawi. Dalam semangat itu, saya menyampaikan selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H kepada seluruh saudara dan sahabat muslimin-muslimat. Semoga keteladanan Rasulullah terus menginspirasi lahirnya pribadi-pribadi yang berbelas kasih, rendah hati, dan setia merawat sesama, sehingga nilai rahmatan lil ‘alamin sungguh menjadi cahaya yang menguatkan Flores, menghibur yang berduka, serta menerangi perjalanan kita bersama sebagai satu keluarga kemanusiaan.












































