Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
15 March 2026 17:00
Jakarta, CNBC Indonesia- Struktur energi dunia sering dipersepsikan sedang bergerak cepat menuju energi hijau. Namun peta konsumsi energi negara-negara ekonomi terbesar menunjukkan cerita yang lebih kompleks. Bahan bakar fosil, terutama minyak, tetap menjadi fondasi utama aktivitas ekonomi global.
Melansir dari laporan Energy Institute Statistical Review of World Energy 2025, komposisi energi di sepuluh ekonomi terbesar dunia pada 2024 masih didominasi minyak, gas, dan batu bara.
Energi ini menggerakkan transportasi, industri berat, hingga pembangkit listrik yang menopang produksi global.
Di antara negara-negara tersebut, minyak menjadi sumber energi terbesar di enam ekonomi utama dunia. Amerika Serikat mengandalkan minyak untuk sekitar 39% dari total pasokan energinya. Jerman bahkan mencatat 41,8%, sementara Inggris berada di 41,7%. Jepang memiliki komposisi yang hampir sama dengan Amerika Serikat, yakni 39%, sedangkan Italia menjadi negara dengan ketergantungan minyak tertinggi di kelompok ini dengan 45,9% dari total bauran energi.
Struktur tersebut berkaitan dengan sektor transportasi dan industri yang masih bergantung pada bahan bakar cair. Infrastruktur kendaraan, logistik global, hingga penerbangan internasional masih bertumpu pada minyak. Perubahan menuju sistem energi alternatif berjalan, tetapi transisi membutuhkan investasi infrastruktur yang sangat besar dan waktu yang panjang.
Sementara itu, pola energi berbeda terlihat di dua ekonomi paling padat penduduk di dunia: China dan India. Kedua negara ini masih mengandalkan batu bara sebagai tulang punggung pasokan energi. Batu bara menyumbang sekitar 58% dari total energi China dan 59,3% di India.
Dominasi batu bara berkaitan dengan struktur ekonomi yang masih bertumpu pada manufaktur dan industri berat. Pembangkit listrik tenaga batu bara mampu menyediakan listrik skala besar dengan biaya relatif rendah, sesuatu yang sangat penting bagi pabrik, kawasan industri, serta urbanisasi yang berlangsung cepat di kedua negara tersebut.
Negara lain menunjukkan strategi yang berbeda dalam membangun sistem energi. Prancis memiliki struktur yang unik di antara ekonomi besar dunia. Energi nuklir menyumbang 46,1% dari total bauran energi nasional, menjadikannya porsi tertinggi di kelompok tersebut. Reaktor nuklir menjadi sumber listrik utama bagi industri dan rumah tangga di negara tersebut.
Kanada menempuh jalur berbeda melalui pemanfaatan sumber daya alamnya. Tenaga air menyumbang sekitar 10,4% dari total energi nasional, salah satu yang terbesar di antara ekonomi maju. Negara ini juga mempertahankan kombinasi minyak dan gas alam yang relatif seimbang dalam sistem energinya.
Rusia memperlihatkan struktur energi yang sangat bertumpu pada gas alam. Sekitar 54% dari total energi Rusia berasal dari gas, menjadikannya komponen terbesar dalam bauran energi negara tersebut. Cadangan gas yang sangat besar menjadikan energi ini sebagai penopang utama listrik, industri, serta ekspor energi.
Jika dilihat secara keseluruhan, transisi energi global berjalan dalam kecepatan yang berbeda di setiap negara. Ekonomi industri dengan jaringan transportasi besar masih bertumpu pada minyak. Negara dengan cadangan batu bara besar mempertahankan penggunaannya untuk listrik dan manufaktur. Sementara sebagian negara memilih jalur nuklir atau tenaga air untuk mengurangi emisi karbon.
Tansformasi energi dunia masih berada pada fase transisi yang panjang. Permintaan energi global terus meningkat seiring pertumbuhan populasi dan industrialisasi. Dalam kondisi tersebut, bahan bakar fosil tetap memegang peran penting dalam menjaga stabilitas sistem energi dunia.
CNBC Indonesia Research
(emb/wur)
Addsource on Google

2 hours ago
4

















































