Netanyahu Tegaskan Hubungan dengan Trump Tetap Solid

1 month ago 28
Netanyahu Tegaskan Hubungan dengan Trump Tetap Solid Donald Trump dan Benjamin Netanyahu.(Al Jazeera)

PERDANA Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan hubungannya dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tetap berjalan baik. Penegasan ini disampaikan di tengah perbedaan pandangan kedua negara mengenai konflik Iran dan Libanon

Dalam wawancara dengan Fox News pada Senin (6/7), Netanyahu menyampaikan apresiasi terhadap Amerika Serikat dan kepemimpinan Donald Trump. Ia membantah berbagai laporan yang menyebut hubungan keduanya memburuk menyusul perbedaan sikap mengenai gencatan senjata dengan Iran serta operasi militer Israel di Libanon.

"Amerika telah menjadi kekuatan besar bagi kebaikan, dan tanpa Amerika tidak akan ada demokrasi di dunia, serta tidak akan ada kebebasan di dunia," kata Netanyahu dilansir Al Jazeera, Selasa (7/7).

Ia juga menegaskan bahwa dirinya dan Trump memiliki banyak kesamaan pandangan dalam berbagai isu strategis.

"Hubungan saya dengan presiden baik-baik saja, dan kami memiliki cara untuk menyelesaikan perbedaan sebagai sekutu yang saling menghormati," sebutnya.

Menurut Netanyahu, perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam hubungan antarnegara, namun hal itu tidak mengubah posisi Amerika Serikat dan Israel sebagai sekutu dekat.

Dalam kesempatan tersebut, Netanyahu turut mengungkapkan rencananya kembali berkunjung ke Amerika Serikat. Meski demikian, ia mengatakan jadwal kunjungan itu masih belum ditetapkan.

Pernyataan Netanyahu disampaikan ketika sejumlah pejabat Israel mengkritik nota kesepahaman (MoU) antara Amerika Serikat dan Iran yang disepakati di Swiss. Kesepakatan tersebut menyerukan gencatan senjata regional, termasuk penghentian konflik di Libanon.

Kritik dari kabinet Israel terhadap langkah Washington memicu respons dari Wakil Presiden AS JD Vance. Ia mengingatkan pemerintah Israel agar tidak terus menyerang kebijakan Amerika Serikat terkait Iran dan tidak menjauhkan diri dari sekutu utamanya.

Vance bahkan meminta para pejabat Israel untuk melihat situasi secara realistis.

"Donald J. Trump adalah satu-satunya kepala negara di seluruh dunia yang saat ini bersimpati kepada Negara Israel, dan kebetulan ia juga merupakan pemimpin negara adidaya dunia," kata Vance kepada wartawan di Gedung Putih. 

"Jika saya berada di kabinet pemerintah Israel, saya mungkin tidak akan menyerang satu-satunya sekutu kuat yang masih saya miliki di seluruh dunia," tambahnya.

Ketegangan tersebut juga terjadi setelah Presiden Trump secara terbuka mengaku frustrasi terhadap sikap Netanyahu yang dinilai menghambat jalannya perundingan antara Amerika Serikat dan Iran. Menurut Trump, operasi militer Israel yang terus berlanjut di Libanon, khususnya terhadap kelompok Hizbullah, berpotensi menggagalkan upaya diplomatik yang sedang berlangsung.

Gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah disebut menjadi salah satu prasyarat penting agar proses negosiasi antara Washington dan Teheran dapat terus berlanjut.

Di sisi lain, Israel tetap menolak menarik pasukannya dari Libanon. Pemerintah Israel bersikeras memiliki hak untuk melancarkan serangan kapan pun sebagai respons terhadap apa yang mereka sebut sebagai ancaman keamanan.

Pada Senin (6/7), serangan Israel di wilayah selatan Libanon dilaporkan menewaskan empat warga sipil, termasuk seorang guru.

(P-4)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |