Nuklir, Antara Bom Pemusnah Massal dan Energi Alternatif

3 hours ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran sejak 28 Februari 2026 tak lepas dari masalah nuklir. AS, bersama sekutunya Israel, melancarkan serangan ke Iran karena menuding negeri para mulah itu mengembangkan senjata nuklir. Hal yang dibantah Iran yang mengaku program mereka adalah nuklir damai yakni untuk kebutuhan energi.

Serangan pertama AS terjadi sehari setelah negosiasi nuklir antara kedua negara berakhir tanpa kesepakatan. Sejak saat itu, perang tak terelakan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

AS dan Israel selama ini memimpin negara-negara Barat untuk menolak program nuklir Iran, dengan klaim bahwa Teheran berupaya mengembangkan bom nuklir. Iran dengan tegas menolak tuduhan tersebut.

Sebelum perang meletus pada 28 Februari 2026, AS dan Israel tercatat juga sudah menyerang fasilitas nuklir dan militer Iran pada Juni 2025 dalam perang yang berlangsung selama 12 hari.

Presiden AS Donald Trump juga sempat memperingatkan bahwa mereka akan mengambil kembali 'debu nuklir' atau uranium Iran secara paksa jika kesepakatan tidak tercapai.

Lantas, apa sebenarnya nuklir yang jadi salah satu pemicu perang Iran dan AS serta Israel?

Definisi nuklir

Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) mendefinisikan nuklir sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan inti atom, atau yang disebut nukleus. Di dalam nukleus inilah tersimpan energi yang luar biasa besar.

Energi ini bisa dilepaskan melalui dua cara: fisi dan fusi yang menghasilkan tenaga sangat besar yang bisa dimanfaatkan untuk listrik, kesehatan, dan industri.

Fisi merupakan proses pembelahan inti atom berat, umumnya uranium atau plutonium, menjadi atom-atom yang lebih kecil. Proses ini melepaskan energi dalam jumlah masif.

Ini yang kemudian menjadi dasar cara kerja reaktor pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) maupun bom atom. Namun begitu, ada perbedaan tipis yang krusial.

Di reaktor, reaksi fisi dikendalikan secara ketat untuk menghasilkan panas yang dikonversi menjadi listrik. Sementara di bom atom, reaksi dibiarkan tak terkendali sehingga melepaskan energi sekaligus dalam hitungan detik.

Fusi adalah kebalikannya. Fusi nuklir adalah proses di mana dua inti atom ringan bergabung untuk membentuk satu inti atom yang lebih berat sambil melepaskan energi dalam jumlah yang sangat besar.

Reaksi fusi terjadi dalam suatu wujud zat yang disebut plasma - gas panas bermuatan yang terdiri dari ion positif dan elektron yang bergerak bebas, dengan sifat-sifat unik yang berbeda dari zat padat, cair, atau gas.

Kenapa AS ngebet melucuti nuklir Iran?

Dalam konteks perang AS-Iran, yang jadi sumber konflik adalah program fisi Iran, khususnya pengayaan uranium. Iran disebut memiliki cadangan uranium yang diperkaya hingga 60 persen, sudah sangat dekat ke kadar 90 persen yang dibutuhkan untuk membuat senjata nuklir.

Inilah yang diduga membuat AS dan Israel memutuskan untuk menyerang Iran.

Pada April lalu, Presiden AS Donald Trump bahkan secara terbuka mengancam akan merebut uranium Iran jika negosiasi damai gagal.

"Kita akan masuk bersama Iran, dan kita akan mengambilnya (uranium) bersama-sama, dan kita akan membawanya kembali ke AS," kata Trump, seperti dikutip Anadolu Agency.

"Jika kita tidak melakukan itu, kita akan mendapatkannya dalam bentuk yang berbeda, bentuk yang jauh lebih tidak ramah," imbuh Trump.

Add as a preferred
source on Google

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |