Pakar: Aktivitas Anak Krakatau Tak Terkait Siklus Megathrust Selat Sunda

1 week ago 26

Gunung Anak Krakatau menyemburkan material vulkanik ke udara setelah erupsi di Selat Sunda, Sabtu (5/9/2026). Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada tingkat siaga tertinggi kedua.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–Aktivitas Gunung Anak Krakatau tidak berkaitan dengan siklus megathrust di Selat Sunda. Meski berada di wilayah tektonik, aktivitas vulkanik Anak Krakatau dan potensi gempa besar akibat megathrust merupakan dua sistem yang berbeda.

Hal tersebut disampaikan Profesor Riset BRIN Prof. Danny Hilman Natawidjaja saat diwawancarai Republika soal aktivitas Gunung Anak Krakatau dan potensi megathrust Selat Sunda.

"Tidak terkait, tidak terkait kalau situs megathrust itu dia tersendiri. Kalau dalam hal ini sih saya pikir apa namanya, interaksinya itu bisa dibilang tidak terlalu singgihkan lah begitu ya. Secara sistem kan bisa saja, apa namanya, aktivitas atau pelepasan magma di Krakatau ini secara teoretik barangkali melepaskan sebagian apa namanya, regangan tektonik atau sebaliknya juga melalui mengganggu sistem teknologi kita sendiri,” katanya, Senin (7/9/2026). 

Menurut Danny secara teori aktivitas vulkanik dan tektonik memang dapat saling berinteraksi. Namun, ia menegaskan belum terdapat dasar untuk mengaitkan aktivitas Anak Krakatau dengan siklus megathrust Selat Sunda.

"Tapi yang semua itu spekulatif dalam seorang organisasi tidak ada hubungan antara aktivitas Krakatau dengan siklus megathrust,” katanya. 

Danny menjelaskan sistem gunung api dan gempa tektonik memang tidak sepenuhnya terpisah. Interaksi keduanya dapat terjadi, terutama apabila berada di lokasi yang berdekatan.

"Intinya sistem gunung api dengan gempa itu terpisah, tapi dia bisa berinteraksi, terutama kalau lokasinya berdekatan. Seperti Krakatau ini, memang dia dipengaruhi oleh tektonik juga, karena dia lokasinya berada di zona tektonik saja, tidak berkaitan dengan megatruss dan yang lainnya, jadi bisa sangat berinteraksi antara vulkanik dengan tektonik,” katanya. 

Menurutnya dalam kondisi tertentu, aktivitas tektonik bahkan dapat memicu aktivitas gunung api. Sebaliknya, aktivitas vulkanik yang memicu aktivitas tektonik disebutnya lebih jarang terjadi.

"Kadang-kadang interaksinya itu memicu potensi gunung api. Tapi sebaliknya cukup jarang sih, cukup jarang kalau ada letusan ada aktivitas vulkanik plus memicu. Tektonik itu lebih jarang,” katanya. 

Potensi tsunami...

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |