Warga menutupi kepalanya saat hujan di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Jumat (2/1/2026). Bekerja di tengah cuaca ekstrem, terutama saat intensitas hujan tinggi dan bencana banjir melanda, bukan sekadar tantangan fisik bagi para pekerja lapangan, tetapi juga ancaman nyata bagi kesehatan.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bekerja di tengah cuaca ekstrem, terutama saat intensitas hujan tinggi dan bencana banjir melanda, bukan sekadar tantangan fisik bagi para pekerja lapangan, tetapi juga ancaman nyata bagi kesehatan. Memasuki 2026 yang diwarnai curah hujan tinggi, kewaspadaan terhadap risiko penyakit infeksi menjadi harga mati yang tidak boleh ditawar bagi mereka yang bertugas di garda terdepan.
Dosen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas YARSI, DR. dr Wan Nedra Komaruddin, Sp.A, mengimbau para pekerja lapangan untuk memperketat protokol kesehatan mandiri saat bertugas. Menurutnya, lingkungan yang basah dan tergenang air merupakan tempat berkembang biak yang sempurna bagi berbagai mikroorganisme penyebab penyakit infeksi yang berpotensi serius.
Wan Nedra, yang juga pemilik Klinik Asshomadiyah Medicare Centre itu mengatakan pekerja lapangan seperti wartawan, kurir ekspedisi, dan petugas teknis lainnya memiliki risiko kesehatan lebih tinggi karena sering terpapar air hujan dan banjir yang kotor. “Pekerja lapangan menghadapi risiko penyakit yang cukup serius, mulai dari leptospirosis, infeksi kulit, diare, hingga infeksi saluran pernapasan,” kata dia pada Kamis (15/1/2026).
Ia mengatakan leptospirosis merupakan salah satu penyakit yang perlu diwaspadai karena disebabkan bakteri dari urine tikus atau hewan lain yang mencemari air banjir. Bakteri tersebut dapat masuk melalui luka kecil di kulit dan menyebabkan demam tinggi, nyeri otot, hingga gangguan ginjal dan hati bila tidak segera ditangani.
sumber : Antara

2 hours ago
1

















































