Bupati Berau Sri Juniarsih Mas (tengah-depan) bersama pihak terkait memantau pesawat yang akan melakukan OMC.(Dok. Antara)
PEMERINTAH Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (Kaltim), resmi memulai Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai langkah strategis untuk menurunkan hujan buatan. Upaya ini dilakukan guna mencegah sekaligus memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian meluas di wilayah tersebut.
Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan OMC ini. Pihaknya terus memperkuat koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan instansi terkait untuk memastikan operasi berjalan efektif.
"Operasi ini merupakan salah satu upaya pencegahan karhutla, terutama dalam menghadapi kondisi cuaca panas dan kekeringan yang meningkatkan risiko kebakaran. Sementara upaya mitigasi di darat seperti edukasi dan penanganan langsung tetap berlangsung," ujar Sri Juniarsih di Tanjung Redeb, Selasa (25/8/2026).
Teknis Operasi dan Penaburan Garam
Operasi ini menggunakan pesawat Smart Cakrawala Aviation jenis Cessna 208 Caravan dengan nomor registrasi PK-SNP. Penerbangan perdana telah dilakukan pada Senin (24/8) malam melalui Bandara Kalimarau, Teluk Bayur. Pesawat mengudara pukul 20.46 WITA selama 99 menit untuk menabur garam di rute lokal area Berau sebelum kembali mendarat pukul 22.25 WITA.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Berau, Masyhadi Muhdi, menjelaskan bahwa OMC dijadwalkan berlangsung selama lima hari, mulai Senin (24/8) hingga Jumat (28/8/2026). Targetnya adalah dua kali penerbangan penaburan garam setiap hari, atau total 10 kali penerbangan selama periode operasi.
Bahan semai yang digunakan adalah garam (NaCl) murni seberat satu ton yang dikemas dalam 50 karung. Tim yang bertugas terdiri dari pilot, co-pilot, dua flight scientist, serta dua petugas penabur garam.
Faktor Keberhasilan Hujan Buatan
Masyhadi menekankan bahwa keberhasilan OMC sangat bergantung pada kondisi alam. Penaburan garam harus memperhitungkan keberadaan awan Cumulonimbus yang sudah matang dan jenuh uap air agar reaksi menghasilkan hujan bisa lebih cepat.
"Proses dari semai hingga turun hujan membutuhkan waktu antara 2 menit hingga 2 jam. Kami harus cermat memperhitungkan kelembapan udara untuk daya serap air (higroskopis) serta arah dan kecepatan angin agar butiran air jatuh tepat di wilayah sasaran," jelas Masyhadi.
Data Karhutla Berau:
Hingga 24 Agustus 2026, tercatat telah terjadi 169 kejadian karhutla di Kabupaten Berau. Total luas lahan hutan maupun perkebunan yang hangus terbakar diperkirakan mencapai 386 hektare.
Langkah modifikasi cuaca ini diharapkan mampu menekan munculnya titik panas baru di tengah kondisi kekeringan ekstrem yang melanda Kalimantan Timur. (Ant/H-3)













































