Pemulihan SLB Negeri Pembina Aceh Tamiang Berbasis PRB Inklusif

2 hours ago 2

Kamis 15 Jan 2026 15:39 WIB

Red: Fian Firatmaja

Pemulihan SLB Negeri Pembina Aceh Tamiang Berbasis PRB Inklusif

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dampak banjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang pada akhir November 2025 tidak hanya menguji ketahanan infrastruktur pendidikan, tetapi juga menegaskan pentingnya kebijakan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang inklusif, khususnya bagi kelompok rentan seperti penyandang disabilitas.

Hingga Selasa (13/1), kegiatan belajar mengajar di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Pembina Aceh Tamiang belum dapat berlangsung secara optimal. Sekitar 80 persen dari total 77 ruangan dan halaman sekolah masih tertutup lumpur dan puing material. Banjir dengan ketinggian muka air mencapai empat meter merusak hampir seluruh sarana dan prasarana yang selama ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan aksesibilitas peserta didik penyandang disabilitas.

Dalam konteks kebijakan PRB, kerusakan ini menunjukkan bahwa satuan pendidikan khusus merupakan objek vital berisiko tinggi yang memerlukan perlindungan berlapis, mulai dari mitigasi struktural, kesiapsiagaan berbasis komunitas, hingga pemulihan yang menjamin keberlanjutan layanan pendidikan inklusif pascabencana.

Proses pemulihan SLB Negeri Pembina Aceh Tamiang dilakukan melalui pendekatan kolaboratif yang mencerminkan prinsip whole-of-society approach dalam kebijakan PRB nasional. Sejak air surut, pemerintah daerah, TNI, organisasi nonpemerintah, dan masyarakat bergerak bersama untuk memulihkan fungsi sekolah.

Pembersihan diawali dari musala yang berada di tengah kompleks sekolah. Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, bangunan ini memiliki peran strategis dalam situasi darurat sebagai ruang aman, titik kumpul, dan pusat koordinasi evakuasi. Pemulihan musala menjadi bagian dari upaya memastikan tersedianya ruang yang relatif aman dan mudah diakses bagi siswa dengan berbagai ragam disabilitas.

Selanjutnya, pembersihan akses antar ruang dilakukan untuk mengembalikan konektivitas lingkungan sekolah. Ketebalan lumpur yang mencapai lebih dari 30 sentimeter menuntut penggunaan alat berat. Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang mendatangkan ekskavator dengan dukungan Dana Siap Pakai (DSP) dari BNPB sebagai bentuk kehadiran negara dalam fase tanggap darurat dan transisi pemulihan.

Video Editor | Fian Firatmaja

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |