Pengalaman Pengabdian Purnatugas harus Dimanfaatkan Jadi Modal Kewirausahaan

1 week ago 24
Pengalaman Pengabdian Purnatugas harus Dimanfaatkan Jadi Modal Kewirausahaan Focus Group Discussion (FGD) Narasraya(RJI)

Founder Restorasi Jiwa Indonesia (RJI) Syam Basrijal mendorong para ajudan yang memasuki masa purnatugas mempersiapkan transisi karier dengan mengubah paradigma dari pelaksana menjadi pencipta nilai. Pengalaman selama bertugas, menurut dia, dapat menjadi modal untuk memasuki dunia profesional maupun kewirausahaan.Hal itu disampaikan Syam dalam Focus Group Discussion (FGD) Narasraya di Hotel RA Suites Simatupang, Jakarta Selatan, Sabtu (8/8). Dalam forum tersebut, ia membahas strategi alih profesi dengan mengoptimalkan ketangkasan dan mentalitas ajudan menghadapi tantangan kewirausahaan.

"Pengalaman itu telah membentuk sejumlah modal karakter yang sangat berharga untuk memasuki dunia profesional maupun kewirausahaan, seperti disiplin, loyalitas, kecepatan eksekusi, kemampuan membaca situasi, manajemen tekanan, dan integritas," kata Syam.

Menurut Syam, berbagai pengalaman tersebut tidak semestinya ditinggalkan ketika seseorang beralih profesi. Sebaliknya, pengalaman itu perlu dikonversi menjadi kompetensi, jaringan, kemampuan kepemimpinan, dan kapasitas menciptakan nilai.

"Yang perlu diubah bukan karakternya, tetapi paradigma berpikirnya," ujarnya.

Ia mengatakan, salah satu tantangan dalam alih profesi adalah keluar dari pola pikir dan identitas lama. Lingkungan kerja ajudan, kata dia, selama ini membentuk kemampuan menjalankan sistem, menjaga stabilitas, merespons instruksi dengan cepat, serta meminimalkan kesalahan.

Kemampuan tersebut dapat menjadi kekuatan ketika memasuki dunia baru. Namun, kewirausahaan membutuhkan kemampuan tambahan, seperti menciptakan peluang, membangun sistem, mengelola ketidakpastian, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab terhadap risiko.

Karena itu, Syam menilai mentalitas disiplin yang dimiliki ajudan perlu diperluas dengan mentalitas entrepreneur. Ia menyebut lima pola pikir yang penting dikembangkan, yakni growth mindset, ownership, opportunity thinking, value creation, dan adaptive learning.

"Kelimanya menjadi jembatan untuk mengubah pengalaman masa lalu menjadi kemampuan membaca peluang dan menciptakan manfaat baru," katanya.

Syam juga mengingatkan bahwa kesiapan memasuki dunia usaha tidak cukup hanya dengan membekali diri dengan pengetahuan bisnis. Menurut dia, proses transisi harus mencakup aspek spiritual, mental, emosional, fisik, sosial, dan finansial.

"Ketidakseimbangan pada satu dimensi dapat memengaruhi kualitas keputusan dan keberlanjutan kehidupan maupun bisnis seseorang," ujarnya.

Dalam FGD tersebut, Syam juga memperkenalkan konsep Hypno Success Method yang terdiri atas enam tahapan, yakni awareness, acceptance, release, reprogramming, conditioning, dan alignment. Metode itu, menurut dia, diarahkan untuk membantu seseorang mengenali pola lama, membangun keyakinan baru, serta menyelaraskan pikiran, emosi, tindakan, dan tujuan hidup.

Selain itu, Syam mendorong peserta mengubah orientasi ekonomi dari sekadar memperoleh penghasilan menjadi membangun aset, sistem, dan legacy. Ia merumuskan tujuh tahap transformasi, mulai dari pemulihan mental dan pola pikir, pembangunan identitas baru, peningkatan kompetensi, perluasan jaringan, pembangunan bisnis, penciptaan aset, hingga pembangunan legacy.

Menurut Syam, masapurna tugas tidak semestinya dipandang sebagai berakhirnya produktivitas. Masa tersebut justru dapat menjadi peralihan medan pengabdian dengan memanfaatkan pengalaman yang telah diperoleh selama bertugas.

"Disiplin seorang ajudan dapat menjadi fondasi. Pengalaman menghadapi tekanan dapat menjadi ketangguhan. Kemampuan membaca situasi dapat berkembang menjadi business judgement. Jaringan dapat menjadi modal sosial. Sementara integritas menjadi fondasi kepercayaan ketika seseorang memasuki dunia usaha dan kepemimpinan," tutur Syam.

Ia menegaskan, perubahan profesi tidak harus menghilangkan karakter yang telah terbentuk selama masa pengabdian.

"Profesi boleh berubah, tetapi integritas, disiplin, dan karakter harus tetap menjadi fondasi. Ketika pikiran bawah sadar diprogram untuk bertumbuh, kesadaran selaras dengan hukum kehidupan, dan tindakan dijalankan secara konsisten, seseorang tidak hanya berhasil membangun bisnis, tetapi juga membangun dirinya menjadi manusia yang mampu menciptakan nilai, membuka peluang, dan meninggalkan warisan bagi generasi berikutnya," pungkasnya. (E-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |