Banjir bandang dan longsor di perbatasan Nepal-Tibet menewaskan sedikitnya 160 orang. Ahli menjelaskan peran longsor, topografi Himalaya, dan perubahan iklim.(AFP)
BANJIR bandang dan tanah longsor di perbatasan Nepal dan Tailan menewaskan sedikitnya 160 orang serta menyebabkan ratusan lainnya hilang pada Rabu (26/8) waktu setempat. Para ahli menilai topografi ekstrem Pegunungan Himalaya memperbesar risiko terjadinya bencana mematikan tersebut.
Survei Geologi AS (USGS) mencatat gelombang seismik yang sebelumnya dilaporkan sebagai gempa magnitudo 4,4 justru dipicu oleh tanah longsor. Hasil penilaian awal International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) memperkuat dugaan tersebut.
"Kami percaya longsoran es-batuan terjadi di Nepal, menyumbat Sungai Lhende dan menyebabkan banjir berantai," ujar analis penginderaan jauh ICIMOD, Sarthak Shrestha dikutip dari AFP.
Hidrolog dari Universitas Texas San Antonio, Hatim Sharif, menyoroti ketiadaan curah hujan sebelum bencana terjadi.
Menurutnya, kondisi itu menggagalkan hampir semua sistem peringatan dini banjir. Sharif menyebut aliran lumpur dan air berkecepatan tinggi yang menyerupai beton cair sangat sulit dihindari. "Berlari tidak akan membantu," kata Sharif.
Sharif menilai jalan keluar terbaik saat bencana terjadi adalah memanjat perbukitan setidaknya setinggi enam meter.
Ia juga menyarankan pemasangan pengukur tingkat ketinggian air sungai sebagai solusi jangka panjang untuk memberikan peringatan 20 hingga 30 menit sebelumnya.
Peneliti dari Universitas Reading Inggris, Dorothy Heinrich, menjelaskan celah sungai yang sempit di kawasan pegunungan mempercepat penumpukan air jika terjadi penyumbatan.
"Apa pun yang menyumbatnya, baik longsoran salju atau tanah longsor, akan menyebabkan akumulasi air yang sangat besar, lalu menciptakan banjir yang sangat cepat ini," tutur Heinrich.
Kepala Risiko Iklim dan Lingkungan ICIMOD, Qianggong Zhang, mengingatkan potensi banjir susulan akibat penyumbatan yang masih berlangsung di hilir.
Sementara itu, Heinrich menekankan tren perubahan iklim di Himalaya memang meningkatkan risiko bencana, meski keterkaitan langsung dengan peristiwa ini masih memerlukan studi lebih lanjut.
"Kami tahu seperti apa tren perubahan iklim di Himalaya. Kepercayaan tinggi akan lebih banyak gelombang panas, surutnya gletser, pengurangan permafrost, hal-hal semacam ini yang dapat memicu tanah longsor dan banjir luapan gletser," ujar Heinrich. (AFP/Z-2)















































