REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON -- Potongan busa, kain, benang dan berbagai sisa material industri biasanya berakhir menjadi barang yang tidak lagi dilirik. Namun di tangan Suhendra, benda-benda yang masih layak dan aman itu justru memiliki kehidupan baru.
Dengan keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun, Suhendra mengubah limbah tersebut menjadi berbagai macam mainan tradisional berwarna-warni. Dari bentuk ayam, barongsai hingga naga, semuanya dibuat secara manual di sebuah sentra kerajinan yang berada di Blok Tegalan, Desa Jamblang, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon.
Di tempat tersebut, aktivitas para perajin masih terlihat setiap hari. Potongan-potongan bahan yang awalnya tampak sederhana perlahan berubah menjadi mainan yang memiliki bentuk dan karakter tersendiri dan dipastikan aman bagi siapapun yang memainkannya.
Bagi Suhendra, aktivitas tersebut bukan semata-mata mencari penghasilan. Ada sebuah tradisi yang ingin ia pertahankan agar keterampilan membuat mainan tradisional tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
“Di sini memang sudah turun-temurun membuat mainan tradisional. Bahan-bahannya banyak memanfaatkan limbah industri,” ujar Suhendra, kemarin.
Dikerjakan dengan Tangan, Mengandalkan Ketelitian
Tidak seperti industri mainan modern yang mengandalkan mesin dan produksi massal, proses pembuatan mainan di tempat Suhendra masih dilakukan secara konvensional. Setiap bagian dikerjakan menggunakan tangan.
Hal itu dilakukan mulai dari memotong busa sesuai bentuk, menyiapkan kain dan benang, menjahit, merakit hingga memberikan warna pada bagian-bagian mainan. Sekilas proses tersebut terlihat sederhana. Namun, dibutuhkan ketelitian dan kecepatan agar setiap potongan bahan dapat menyatu menjadi bentuk yang diinginkan.
Salah sedikit dalam memotong atau merakit, bentuk mainan bisa berubah dan hasil akhirnya tidak sesuai dengan rancangan. “Semua masih dibuat secara konvensional. Jadi memang membutuhkan ketelitian dan kecepatan,” katanya.
Dalam menjalankan usahanya, Suhendra tidak bekerja sendirian. Lima orang warga sekitar ikut membantunya setiap hari.
Mereka terlibat dalam berbagai tahapan produksi, sekaligus mendapatkan penghasilan dari keterampilan yang selama ini berkembang di lingkungan mereka. Untuk menghasilkan sekitar tiga kodi mainan, Suhendra bersama para pekerjanya membutuhkan waktu kurang lebih satu pekan. Waktu tersebut digunakan untuk melewati seluruh rangkaian produksi, mulai dari pemotongan bahan, penjahitan, perakitan hingga proses pewarnaan.
Dari bahan-bahan sisa itulah kemudian lahir mainan dengan warna yang beragam. Bentuk ayam, barongsai dan naga menjadi beberapa produk yang hingga kini masih dibuat dan dipasarkan.
Meski dibuat dengan cara tradisional, mainan produksi Suhendra ternyata masih memiliki pasar. Dengan harga sekitar Rp 10.000 per buah, mainan tersebut dipasarkan di wilayah Cirebon hingga berbagai daerah di Indonesia.
Produk buatan para perajin Jamblang yang menjangkau berbagai daerah di Indonesia, menunjukkan mainan tradisional masih memiliki peminat di tengah dominasi produk-produk modern. Harga yang relatif terjangkau menjadi salah satu daya tarik. Namun, ada hal lain yang membuatnya berbeda, yakni proses pembuatannya yang masih mengandalkan tangan dan keterampilan para perajin.
Setiap mainan yang dihasilkan bukan sekadar produk jadi, tetapi juga membawa cerita tentang bagaimana masyarakat memanfaatkan bahan yang dianggap tidak bernilai menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi.

2 hours ago
4














































