REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel memicu kekhawatiran di pasar global. Posisi Iran yang mengapit Selat Hormuz dan berdekatan dengan Bab el-Mandeb dinilai membuat konflik di kawasan tersebut berisiko mengguncang harga energi dunia.
Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, mengatakan Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran biasa. “Selat Hormuz adalah titik cekik ekonomi dunia. Hampir 20 juta barel minyak per hari melintasinya, ditambah pasokan LNG yang menggerakkan Eropa. Artinya, bahan bakar untuk mobil, pesawat, dan pabrik bergantung pada jalur tersebut,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Ahad (1/3/2026).
Menurut Rahma, jika jalur itu terganggu, harga minyak dapat melonjak dalam waktu singkat. Sejarah, katanya, telah memberi pelajaran. Pada era “Perang Tanker” 1980-an hingga serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi pada 2019, harga minyak sempat meroket akibat gangguan pasokan.
“Pasar minyak sangat sensitif. Bahkan serangan terbatas saja bisa langsung mendorong harga naik tajam,” katanya.
Kondisi serupa juga membayangi Bab el-Mandeb yang menjadi pintu masuk ke Laut Merah dan jalur menuju Terusan Suez. Jika akses tersebut tersendat, kapal-kapal harus memutar mengelilingi Afrika. Dampaknya, biaya logistik meningkat, waktu pengiriman lebih lama, dan harga barang ikut terdorong naik.
Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak akan berdampak langsung pada beban subsidi energi. Kenaikan harga minyak mentah berpotensi memperlebar tekanan fiskal dan memaksa pemerintah menyesuaikan anggaran. “Jika harga melonjak, subsidi BBM dan listrik bisa membengkak,” ujar Rahma.
Di sisi lain, gejolak global biasanya diikuti tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Pelemahan rupiah akan meningkatkan harga bahan baku impor dan memicu inflasi. Sektor manufaktur serta pangan olahan yang masih bergantung pada bahan baku impor dinilai paling rentan terdampak.
Rahma menilai investor kini akan mencermati perkembangan di Timur Tengah secara harian. Harga minyak, emas, hingga komoditas pangan global bergerak fluktuatif mengikuti sentimen geopolitik. Emas cenderung menguat sebagai aset lindung nilai, sementara pasar saham menjadi lebih volatil.
Pemerintah diminta memperkuat koordinasi pengendalian inflasi dan menjaga pasokan energi dalam negeri. Diversifikasi energi serta percepatan pengembangan energi baru terbarukan dinilai sebagai langkah jangka menengah yang mendesak.
“Situasinya sangat dinamis. Indonesia harus fokus memperkuat fondasi ekonomi domestik agar tidak terlalu rentan terhadap gejolak eksternal,” ujar Rahma.
Ia menegaskan dampak konflik tidak berhenti pada harga minyak semata. “Bayangkan jika dua jalur itu tertutup bersamaan. Harga minyak melonjak, inflasi meningkat, perdagangan global melambat. Efeknya berantai hingga ke dapur rumah tangga,” katanya.
Menurutnya, langkah antisipatif perlu segera disiapkan, mulai dari penguatan cadangan energi, stabilisasi nilai tukar, hingga diplomasi aktif untuk mendorong deeskalasi konflik.
“Indonesia harus waspada, tetapi tidak panik. Yang penting pasar dipantau ketat dan kebijakan disiapkan lebih awal,” ujarnya.

2 hours ago
1















































