Profil Putra Shah Terakhir Iran Kawan Israel yang Dukung Demonstrasi

2 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Pemimpin oposisi Iran Reza Pahlavi kembali menjadi sorotan usai menyerukan militer membelot di tengah huru-hara demonstrasi massal.

"Kalian adalah militer nasional Iran, bukan militer Republik Islam," tulis Pahlavi melalui akun X pada Selasa (13/1).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia lalu berujar, "Kalian memiliki kewajiban untuk melindungi nyawa sesama warga negara. Waktu kalian tidak banyak. Bergabung lah dengan mereka secepat mungkin."

Sebelumnya, Pahlavi juga menyerukan warga untuk terus melakukan demo dan merebut kebebasan dari pemerintahan yang dianggap menindas.

Pahlavi dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu wajah paling dikenal dari oposisi Iran. Ia kini tinggal di pengasingan di Amerika Serikat.

Dia tidak pernah lagi menginjakkan kaki di Iran sejak ayahnya, Shah Mohammad Reza Pahlavi, tumbang.

Siapa sebetulnya Reza Pahlavi?

Pahlavi lahir pada 31 Oktober 1960. Ia secara resmi dinobatkan jadi putra mahkota pada 1967.

Pada 1978, tepatnya di usia yang ke-17 tahun, Pahlavi ke AS untuk mengikuti pelatihan pilot di Pangkalan Angkatan Udara Reese di Lubbock, Texas.

Setahun kemudian, ayahnya digulingkan dalam pemberontakan yang disebut Revolusi Islam dan membuat Iran menjadi pemerintahan seperti sekarang.

Sejak digulingkan, ayah Pahlavi berusaha mencari perlindungan di negara lain hingga akhirnya meninggal karena kanker di Mesir. Mulai saat itu, ia mengambil alih peran sebagai Shah.

Selama di AS, Pahlavi juga belajar ilmu politik hingga menikah dengan warga Iran-Amerika Yasmine Etemad-Amini. Dari pernikahan tersebut mereka dikaruniai tiga anak.

Kunjungi Israel

Pahlavi terus memantau Iran hingga berupaya menjalin relasi yang sempat menguat dengan Israel. Pada April 2023, dia akhirnya berkunjung ke Negeri Zionis.

Di sana, dia menghadiri upacara Hari Peringatan Holocaust, mengunjungi Tembok Barat, dan bertemu dengan Presiden Israel Isaac Herzog serta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Kunjungan itu memicu kritik di Iran terutama setelah Perang 12 Hari pada Juni tahun lalu.

Ia dicap sebagai "pengkhianat" oleh tokoh oposisi Iran, termasuk beberapa tahanan politik terkemuka Teheran.

Selama ini, Pahlavi juga ingin menggulingkan rezim Ayatollah Ali Khamenei dan memulihkan apa yang dia sebut demokrasi di negara tersebut.

Saat Iran dilanda demo besar pada 2022 buntut kematian Mahsa Amini, Pahlavi juga mendukung unjuk rasa tersebut. Ia menegaskan tak boleh ada kekerasan terhadap rakyat.

Kala itu, sejumlah demonstran meneriakkan slogan-slogan untuk mendukung Pahlavi memimpin Iran.

(isa/rds)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |