Psikologi Memahami Ketika Jiwa Menghilangkan Dirinya Sendiri

3 hours ago 1

Image Tonny Rivani

Gaya Hidup | 2026-06-19 15:29:38

Gambar Ilustrasi.

Opini - Di zaman yang serba cepat, manusia semakin mudah terhubung dengan dunia seperti Desa Dunia, tetapi semakin sulit terhubung dengan dirinya sendiri. Kemajuan teknologi, tuntutan ekonomi, budaya pencitraan, dan persaingan yang tak pernah berhenti telah menciptakan paradoks kehidupan modern: banyak orang tampak hidup secara fisik, tetapi perlahan kehilangan jiwanya. Mereka menjalani rutinitas, mengejar target, dan mempertahankan citra, namun tidak lagi mengenali siapa dirinya sebenarnya. Inilah yang dapat disebut sebagai "matinya diri sebelum matinya raga".

Fenomena ini sesungguhnya telah lama menjadi perhatian para pemikir agama, psikolog, dan filsuf. Meskipun menggunakan bahasa yang berbeda, mereka sampai pada kesimpulan yang serupa: manusia dapat mengalami keterasingan dari dirinya sendiri ketika kehilangan kesadaran akan makna hidup dan tujuan keberadaannya.

Perspektif Islam: Lupa kepada Allah, Lupa kepada Diri Sendiri

Dalam Islam, kehilangan diri berakar pada putusnya hubungan manusia dengan Tuhan. Al-Qur'an mengingatkan:

"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri." (QS. Al-Hasyr: 19)

Ayat ini menunjukkan hubungan erat antara kesadaran spiritual dan kesadaran diri. Ketika manusia kehilangan orientasi kepada Allah, ia juga kehilangan pemahaman tentang siapa dirinya dan untuk apa ia hidup.

Pemikir Muslim terkemuka, Abu Hamid al-Ghazali, menegaskan bahwa krisis manusia bukan pertama-tama krisis materi, melainkan krisis hati dan jiwa. Dalam karya monumentalnya, Ihya' Ulum al-Din, ia menjelaskan bahwa banyak manusia sibuk mengurus dunia luar tetapi lalai mengenal dirinya sendiri. Al-Ghazali menulis:

"Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya."

Meski status hadis ungkapan ini diperdebatkan oleh para ulama, Al-Ghazali menggunakannya sebagai prinsip spiritual bahwa pengenalan diri merupakan jalan menuju pengenalan Tuhan.

Pandangan serupa dikemukakan oleh Jalaluddin Rumi:

"Engkau bukan setetes air di lautan. Engkau adalah seluruh lautan dalam setetes air."

Rumi mengingatkan bahwa manusia sering mencari makna di luar dirinya, padahal sumber kebijaksanaan dan kesadaran telah ada dalam dirinya sendiri.

Perspektif Psikologi: Kehilangan Diri yang Otentik

Dalam psikologi humanistik, Carl Rogers menjelaskan bahwa penderitaan psikologis muncul ketika terdapat jarak antara "diri yang sebenarnya" dan "diri yang ditampilkan". Seseorang yang terus-menerus hidup untuk memenuhi harapan lingkungan akan mengalami ketidakselarasan (incongruence), yang memicu kecemasan, kehampaan, dan kehilangan identitas.

Rogers menulis: "Semakin saya menerima diri saya apa adanya, semakin saya mampu berubah."

Pernyataan ini menunjukkan bahwa kesehatan mental tidak lahir dari pencitraan, melainkan dari keberanian menerima diri secara jujur.

Sementara itu, psikiater dan penyintas kamp konsentrasi Nazi, Viktor Frankl, melihat bahwa krisis terbesar manusia modern adalah hilangnya makna hidup. Dalam bukunya Man's Search for Meaning, ia menyatakan:

"Mereka yang memiliki alasan untuk hidup dapat menghadapi hampir segala cara untuk hidup."

Menurut Frankl, kehampaan eksistensial (existential vacuum) menjadi penyakit khas masyarakat modern. Banyak orang memiliki sarana hidup, tetapi kehilangan alasan mengapa mereka hidup.

Perspektif Filsafat: Menjadi Asing bagi Diri Sendiri

Dari perspektif filsafat, persoalan kehilangan diri telah dibahas sejak zaman kuno. Filsuf Yunani, Socrates, terkenal dengan seruannya:

"Kenalilah dirimu sendiri." Bagi Socrates, kehidupan yang tidak direfleksikan adalah kehidupan yang kehilangan arah. Manusia yang tidak mengenal dirinya akan mudah dikendalikan oleh opini, hasrat, dan tekanan dari luar.

Pada era modern, filsuf eksistensialis Søren Kierkegaard menyebut keputusasaan sebagai "penyakit menuju kematian". Menurutnya, seseorang bisa saja sehat secara fisik tetapi mengalami kehancuran batin karena gagal menjadi dirinya sendiri.

Pemikiran ini kemudian dikembangkan oleh Erich Fromm yang mengkritik masyarakat modern sebagai masyarakat yang lebih sibuk "memiliki" daripada "menjadi". Dalam bukunya To Have or To Be?, Fromm menunjukkan bahwa manusia modern sering mengukur dirinya berdasarkan apa yang dimiliki, bukan berdasarkan kualitas keberadaannya sebagai manusia.

Jika dicermati, Islam, psikologi, dan filsafat bertemu pada satu titik: manusia akan kehilangan dirinya ketika ia hidup jauh dari makna, kesadaran, dan tujuan hidup yang sejati. Dalam bahasa agama, manusia lupa kepada Tuhan. Dalam bahasa psikologi, manusia kehilangan diri yang otentik. Dalam bahasa filsafat, manusia terasing dari eksistensinya sendiri.

Oleh karena itu, menjaga jiwa agar tetap hidup bukan hanya soal kesehatan mental, tetapi juga soal kesadaran spiritual dan kebijaksanaan hidup. Sebab ancaman terbesar manusia bukanlah kematian jasad, melainkan saat ia masih bernapas namun tidak lagi mengenal siapa dirinya, mengapa ia hidup, dan ke mana arah hidupnya. Pada saat itulah terjadi apa yang disebut sebagai matinya diri sebelum matinya raga.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |