Ramai-ramai Asing Serbu RI di 2025, Ini Ternyata yang Diincar!

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Investasi yang terealisasi di Indonesia sepanjang tahun lalu mencapai Rp 1.931,2 triliun, atau mencapai 101,3% dari target pemerintah Rp 1.905,6 triliun. Sebagian besar terealisasi dalam bentuk pembangunan industri logam dasar seperti pengolah Nikel Cs, hingga industri kimia dan transportasi sepanjang 2025.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM Rosan Perkasa Roeslani mengatakan, dari total investasi yang masuk sepanjang Januari-Desember 2025 ini mayoritas masuk ke sektor industri logam dasar, barang logam, bukan mesin, dan peralatannya mencapai Rp 262 triliun, atau setara 13,6% dari total investasi yang masuk. Antara lain untuk produk nikel hingga emas.

"Industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya itu porsinya 13,6%," kata Rosan saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (15/1/2026).

Adapun untuk posisi kedua terealisasi dalam bentuk industri transportasi, gudang, dan telekomunikasi Rp 211 triliun, pertambangan Rp 199,6 triliun, jasa lainnya Rp 170,5 triliun, dan sektor perumahan, kawasan industri, serta perkantoran Rp 140,4 triliun.

Bila dibedah berdasarkan asal investasinya, yang berasal dari penanaman modal asing (PMA) atau foreign direct investment (PMI) paling banyak terealisasi untuk pembangunan industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya dengan nilai setara US$ 14,6 miliar atau 26% dari total realisasi FDI pada 2025 senilai Rp 900,9 triliun.

Selanjutnya, investor asing paling banyak masuk juga untuk sektor pertambangan dengan nilai US$ 4,7 miliar, jasa lainnya US$ 4,5 miliar, industri kimia dan farmasi US$ 4,8 miliar, serta transportasi, gudang, dan telekomunikasi US$ 4,4 miliar.

Adapun untuk penanaman modal dalam negeri (PMDN) atau investor domestik kebanyakan merealisasikan investasinya untuk sektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi Rp 158,6 triliun atau setara 15,4% dari total PMDN pada 2025 sebesar Rp 1.030,3 triliun.

Setelahnya dalam bentuk pertambangan dengan nilai Rp 123,8 triliun, diikuti sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran yang senilai Rp 99,6 triliun, jasa lainnya Rp 98,6 triliun, dan perdagangan serta reparasi Rp 92,9 triliun.

"Investasi di bidang perumahan, baik dalam maupun luar negeri ini akan meningkat cukup signifikan, kita sudah liat pipelinenya, karena program bapak presiden yang diterjemahkan Kementerian Perumahan, termasuk kawasan industrinya, ini untuk tahun ini (2026) dan bisa menggeser sektor lainnya," kata Rosan.

(arj/mij)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |