Warga memikul gunungan yang berisi Ketupat atau Kupat saat Tradisi Kirab Sewu atau Seribu Kupat.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, kembali menggelar tradisi tahunan Parade Sewu Kupat di Desa Colo Kecamatan Dawe, sebagai bagian dari pelestarian tradisi syawalan sekaligus upaya mendorong sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat setempat.
Parade yang digelar di Taman Ria Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Sabtu itu, berlangsung meriah dan dihadiri langsung oleh Bupati Kudus Sam'ani Intakoris, Wakil Bupati Bellinda Birton, Anggota DPR RI Musthofa, unsur Forkopimda, kepala OPD, serta masyarakat.
Bupati Kudus Sam'ani Intakoris di Kudus, Sabtu, menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya kegiatan Parade Sewu Kupat. Kegiatan itu tidak hanya memiliki nilai budaya dan religi, tetapi juga berpotensi besar sebagai destinasi wisata unggulan.
"Alhamdulillah hari ini (28/3) Kupatan diselenggarakan melalui 'Tradisi Sewu Kupat' di Desa Colo. Ini menjadi destinasi wisata sekaligus mendorong kebangkitan ekonomi di Kabupaten Kudus," ujarnya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat terus berkembang dan memberikan manfaat lebih besar, dan mampu meningkatkan ekonomi serta destinasi wisata. Tahun depan diharapkan bisa lebih besar lagi, termasuk lebih tertata sehingga masyarakat tidak perlu berebut kupat maupun lepet.
Selain itu, Sam'ani juga mengajak masyarakat untuk terus melestarikan budaya atau nguri-uri tradisi dengan meneladani ajaran Sunan Muria dan Sunan Kudus, serta menjaga ketertiban selama kegiatan berlangsung.
Tradisi Sewu Kupat sendiri merupakan bagian penting dari budaya masyarakat Kudus yang digelar tujuh hari setelah Hari Raya Idul Fitri, sebagai penutup rangkaian perayaan Lebaran. Tradisi ini juga memiliki makna spiritual yang mendalam.
Usai menjalankan puasa Syawal selama enam hari, masyarakat menggelar kupatan sebagai simbol rasa syukur, kebersamaan, serta saling memaafkan.
sumber : Antara

2 hours ago
2
















































