Riset Tunjukkan Integrasi Self-Care ke Sistem Kesehatan Katrol Akses dan Kurangi Beban Layanan Medis

3 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Riset terbaru Economist Enterprise mengungkapkan bahwa integrasi perawatan kesehatan mandiri (self-care) ke dalam sistem kesehatan formal berpotensi meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, memperluas akses layanan kesehatan, sekaligus mengurangi beban pada sistem layanan medis.

Laporan bertajuk Making Self-Care Work: Integrating Self-Care into Health Systems yang didukung Bayer itu menyebut praktik self-care diperkirakan mampu memberikan manfaat ekonomi hingga sekitar US$179 miliar per tahun serta mendukung pencapaian Cakupan Kesehatan Semesta atau Universal Health Coverage (UHC) di berbagai negara.

Riset tersebut menilai sistem kesehatan global saat ini menghadapi tekanan yang semakin besar akibat bertambahnya populasi lanjut usia, meningkatnya penyakit kronis, kekurangan tenaga kesehatan, serta ketimpangan akses layanan. Dalam kondisi tersebut, self-care dinilai dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan luaran kesehatan, memperluas akses layanan, dan menciptakan sistem kesehatan yang lebih berkelanjutan.

Namun, Economist Enterprise menekankan bahwa efektivitas self-care hanya dapat dicapai apabila menjadi bagian dari sistem kesehatan formal. Praktik tersebut harus didukung oleh akses yang terjangkau, informasi kesehatan yang terpercaya, serta mekanisme rujukan yang jelas menuju layanan medis profesional.

Scientist di Department of Sexual, Reproductive, Maternal, Child, Adolescent Health and Ageing World Health Organization (WHO), Dr. Manjulaa Narasimhan, mengatakan self-care merupakan garda terdepan dalam pelayanan kesehatan.

“Self-care adalah garda terdepan untuk semua perawatan kesehatan. Dengan adanya bukti klinis, kebijakan yang mendukung, serta tenaga kesehatan dan perawatan yang terlatih, perawatan diri dapat berkontribusi besar dalam meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan bagi semua orang,” ujar Manjulaa dalam laporan tersebut.

Mengacu pada definisi WHO, self-care merupakan kemampuan individu, keluarga, dan komunitas dalam menjaga kesehatan serta mengelola penyakit. Praktiknya mencakup perilaku hidup sehat, pencegahan penyakit, pemanfaatan teknologi digital, pemantauan kondisi kesehatan secara mandiri, hingga penggunaan obat bebas sesuai ketentuan.

Meski demikian, cakupan self-care yang luas juga menghadirkan tantangan dalam aspek tata kelola, pengukuran, dan integrasi ke dalam sistem kesehatan.

Riset Economist Enterprise menyebut self-care yang didukung secara optimal dapat memperluas akses layanan kesehatan, memperkuat upaya pencegahan dan deteksi dini penyakit, meningkatkan peran aktif masyarakat dalam menjaga kesehatannya, serta mengurangi tekanan terhadap fasilitas pelayanan kesehatan.

Member of the Bayer Board of Management sekaligus President Consumer Health Bayer, Julio Triana, mengatakan solusi self-care seperti perangkat digital, obat bebas yang aman, suplemen nutrisi, dan informasi edukatif menjadi bagian penting dalam mengatasi kesenjangan layanan kesehatan.

“Self-care yang kredibel dapat membantu memperluas akses dan memperkuat sistem kesehatan, tetapi ini harus didukung oleh informasi berbasis bukti, standar yang ketat, serta jalur rujukan yang jelas menuju perawatan profesional,” katanya.

Laporan tersebut juga mengidentifikasi tiga prioritas untuk memperkuat implementasi self-care. Pertama, mengubah komitmen kebijakan menjadi implementasi nyata melalui tata kelola yang jelas dan koordinasi antarpemangku kepentingan. Kedua, memperluas akses melalui penyediaan produk dan layanan yang terjangkau, informasi yang andal, mekanisme pembiayaan yang tepat, serta dukungan yang sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat. Ketiga, memperkuat sistem pengukuran, keselamatan pasien, serta akuntabilitas agar pelaksanaan self-care dapat dievaluasi secara berkelanjutan.

Sejumlah negara disebut telah mengintegrasikan self-care ke dalam sistem kesehatannya. Jerman, misalnya, menerapkan kebijakan green prescriptions yang memungkinkan dokter meresepkan obat bebas sebagai bagian dari terapi mandiri dengan pengawasan medis. Sementara di Indonesia, Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) mendorong penerapan gaya hidup sehat, sanitasi, edukasi kesehatan, serta penggunaan obat secara bijak di lingkungan sekolah, tempat kerja, dan masyarakat.

Director General Global Self-Care Federation, Greg Perry, menegaskan bahwa self-care bukan bertujuan menggantikan sistem kesehatan, melainkan melengkapinya.

“Produk dan layanan self-care berbasis bukti serta obat bebas yang didukung informasi akurat justru menciptakan ruang kapasitas bagi sistem rujukan, sehingga pasien dapat memperoleh penanganan medis di fasilitas kesehatan secara tepat waktu ketika benar-benar membutuhkannya,” ujar Perry.

Economist Enterprise menyimpulkan bahwa penguatan tata kelola, pembiayaan, akuntabilitas, dan sistem pendukung akan menjadikan self-care sebagai pintu masuk layanan kesehatan yang efektif, efisien, serta mampu mendukung terwujudnya sistem kesehatan yang lebih preventif dan proaktif.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |