Rumah Pengantin Iran Dibom AS, Pesta Pernikahan Maryam dan Ziaeddin Berubah Jadi Kelam

1 week ago 24

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Maryam dan Ziaeddin seharusnya menghabiskan malam pernikahan paling berkesan dalam hidup mereka dikelilingi oleh orang-orang terkasih. Namun harapan itu justru menjadi sebuah mimpi buruk.

Keduanya tidak menyangka pesta perkawinan itu justru menjadi momen paling kelam, sekaligus salah satu malam paling menyakitkan selama masa perang bagi rakyat Iran.

Seperti dilansir MEE, pada Selasa malam, 1 September, sekitar 350 orang berkumpul di Kuhestak—sebuah wilayah di Kabupaten Sirik, pesisir timur Provinsi Hormozgan, Iran—untuk menghadiri pernikahan Maryam Mallahi dan Ziaeddin Khoshrish.

Sesuai dengan tradisi setempat, perayaan tersebut dilangsungkan di dua rumah terpisah. Para pria berkumpul di rumah kerabat, sementara kaum wanita menunggu di rumah keluarga mempelai wanita.

Lampu-lampu hias warna-warni telah dipasang. Para tamu mengenakan pakaian adat, dan semua orang menantikan kedatangan kedua mempelai.

Sekitar pukul 21.00, saat Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan baru di wilayah selatan Iran, serangkaian ledakan terdengar di Kuhestak.

Laporan awal menyebutkan bahwa sebuah menara telekomunikasi dan fasilitas di dekat dermaga telah terkena serangan. Menara tersebut berdiri kurang dari 200 meter dari lokasi pernikahan.

Tak lama kemudian, sebuah proyektil menghantam rumah tempat kaum wanita dan anak-anak berkumpul, hingga menembus atap bangunan tersebut.

Majid, 41 tahun, sedang berada di acara perkumpulan pria di dekat lokasi kejadian. Istri dan anaknya yang berusia lima tahun terluka.

"Kami sedang mengobrol dengan beberapa tamu lain ketika tiba-tiba kami mendengar suara yang mengerikan," ujarnya kepada Middle East Eye.

"Awalnya, kami mengira itu gempa bumi. Kami panik dan berlari ke luar.

"Kami bergegas menuju rumah pengantin wanita dan melihat asap serta api di mana-mana. Saya menarik istri dan anak saya yang berusia lima tahun dari bawah reruntuhan. Jeritan terdengar dari segala arah. Darah ada di mana-mana, dan semua orang berusaha keras menolong mereka yang terluka."

Ali Mallahi, ayah pengantin wanita sekaligus pemilik rumah, mengatakan bahwa ia mendengar ledakan kedua dan ledakan ketiga. Ia lalu menyadari bahwa suara-suara itu tampaknya berasal dari arah rumahnya.

"Ledakan pertama menghancurkan total rumah satu lantai itu dan membuatnya tak bisa lagi dihuni," ujarnya.

"Ledakan kedua menghantam halaman, merusak sebuah mobil dan bagian lain dari properti tersebut. Rumah itu kini bukan lagi sebuah tempat tinggal. Rumah itu sudah lenyap."

Menurut laporan berita, salah satu proyektil menembus atap dan meninggalkan lubang sedalam sekitar 1,5 meter di lantai salah satu ruangan.

Mina, salah satu tamu, termasuk di antara para wanita yang terjebak di dalam rumah. Ia kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Abolfazl di kota Minab yang tak jauh dari lokasi kejadian.

"Kami sedang makan es krim," tuturnya kepada MEE. "Anda tahu, cuaca di Hormozgan masih sangat panas pada masa ini. Kami sedang menunggu kedatangan pengantin pria dan wanita ketika tiba-tiba kami mendengar ledakan dahsyat di suatu tempat dekat rumah itu."

Ia mengatakan ledakan kedua menghantam rumah tak lama kemudian dan menjebol atap. "Batu bata serta serpihan langit-langit dan dinding tiba-tiba runtuh menimpa kami," ujarnya.

"Semua orang berteriak. Semua orang berteriak minta tolong. Tak ada yang tahu apa yang telah terjadi. Saya terjebak di bawah reruntuhan. Saya beruntung bisa selamat."

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |