Rupiah Masih Loyo Meski Ekonomi Tumbuh 5,61 Persen, Apa Sebabnya?

1 hour ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Nilai tukar rupiah masih tertekan oleh dolar Amerika Serikat (AS), meski pertumbuhan ekonomi Indonesia menyentuh 5,61 persen pada kuartal I 2026.

Berdasarkan pantauan CNN Indonesia pada Kamis (7/5) pukul 13.25 WIB, rupiah berada di level Rp17.362 per dolar AS atau menguat 25 poin setara 0,14 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Kendati menguat tipis, posisi rupiah masih berada di kisaran Rp17.300-an setelah sempat menyentuh level Rp17.424 per dolar AS pada perdagangan Selasa (5/5) sore, yang menjadi titik terlemah rupiah sepanjang sejarah

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal I 2026.

Kepala Badan Pusat Statistik Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 terutama ditopang konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Direktur Eksekutif Center of Economic Reforms (CORE) Indonesia Muhammad Faisal menilai pelemahan rupiah tidak semata dipengaruhi kondisi global, tetapi juga berkaitan dengan persepsi investor terhadap fundamental domestik.

"Kalau rupiah ini kan sebetulnya tekanan terhadap capital outflow ini karena banyak faktor. Kaitannya dengan fundamental ekonomi kita, masalah kesehatan fiskal, tata kelola fiskal, potensi pelebaran defisit, kemudian bagaimana efektivitas kebijakan dan tata kelola program-program prioritas pemerintah," ujar Faisal kepada CNNIndonesia.com, Kamis (7/5).

Ia mengatakan kekhawatiran investor terhadap tata kelola fiskal dan koordinasi kebijakan pemerintah turut memengaruhi arus modal keluar dan prospek investasi portofolio di Indonesia.

Menurut Faisal, kondisi itu membuat pergerakan rupiah berbeda arah dengan pertumbuhan ekonomi yang saat ini masih ditopang konsumsi rumah tangga, investasi langsung, dan belanja pemerintah.

"Memang ada faktor geopolitik dan tekanan dari kebijakan Amerika Serikat, tapi di luar itu ada faktor domestik yang perlu diperbaiki karena mempengaruhi kepercayaan investor," ujarnya.

Senada, Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai investor melihat pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 bersifat sementara karena terlalu bergantung pada belanja pemerintah.

"Analis pasar dan investor menyadari bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi ini hanya temporer karena didukung program belanja pemerintah," ujar Bhima.

Ia menyoroti konsumsi pemerintah yang tumbuh 21,81 persen pada kuartal I 2026. Menurutnya, dorongan belanja negara yang agresif memunculkan kekhawatiran terhadap pelebaran defisit APBN ke depan.

"Investor melihat ada biaya yang sangat mahal hanya untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi pada awal tahun. Ke depan akan sulit menahan defisit agar tidak melebar," ujarnya.

Bhima juga menilai pelaku pasar meragukan kualitas pertumbuhan ekonomi saat sektor riil belum sepenuhnya pulih. Ia mencontohkan aktivitas manufaktur yang masih berada di zona kontraksi.

"Makanya mereka tidak yakin angka pertumbuhan 5,6 persen ini mencerminkan gerak di sektor riil karena PMI manufaktur sedang kontraksi," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]

(lau/sfr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |