REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Defisit perdagangan luar negeri Turki menyusut 15,7 persen menjadi 42,7 miliar dolar AS. Di tengah gejolak konflik Timur Tengah dan perlambatan perdagangan global, Ankara justru menemukan celah untuk menekan salah satu masalah terbesarnya.
Angka itu muncul ketika ekspor Turki justru sedang melemah. Pada Mei 2026, nilai ekspor negara tersebut turun 9,3 persen menjadi 22,5 miliar dolar AS dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Namun mengapa defisitnya malah mengecil?
Jawabannya terletak pada impor. Data Kementerian Perdagangan Turki menunjukkan impor turun lebih dalam dibanding ekspor. Pada Mei, impor anjlok 10,7 persen menjadi 28,1 miliar dolar AS.
Ketika barang yang masuk ke dalam negeri menyusut lebih cepat daripada barang yang dijual ke luar negeri, tekanan terhadap neraca perdagangan pun berkurang. Tetapi apa yang membuat impor Turki mendadak melambat?
Menteri Perdagangan Turki Omer Bolat mengungkapkan penurunan terbesar terjadi pada impor emas dan sektor otomotif. Di saat yang sama, impor minyak justru meningkat hampir 2,5 miliar dolar AS, sementara impor gas alam relatif tidak berubah. Apakah ini menandakan perubahan strategi ekonomi Turki?
Saat perdagangan bulanan menurun, ada satu fakta yang menarik perhatian. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, ekspor Turki justru masih tumbuh tipis 0,3 persen menjadi 111,2 miliar dolar AS. Sementara impor naik 1,2 persen hingga mendekati 154 miliar dolar AS. Angka tersebut menunjukkan mesin ekspor Turki belum benar-benar kehilangan tenaga. Lalu sektor apa yang menopangnya?
Bukan tekstil. Bukan pula produk pertanian. Bolat menyebut produk teknologi menengah-tinggi dan teknologi tinggi kini menyumbang 44 persen dari total ekspor Turki. Pergeseran ini menunjukkan ekonomi Turki semakin bergeser dari komoditas tradisional menuju produk bernilai tambah lebih tinggi. Namun siapa pembeli terbesar barang-barang tersebut?
Jawabannya masih sama: Eropa. Uni Eropa tetap menjadi pasar ekspor terbesar Turki dengan nilai pengiriman mencapai 48,6 miliar dolar AS atau sekitar 43 persen dari total ekspor nasional.
Jerman menjadi tujuan utama, disusul Amerika Serikat, Inggris, Italia, Prancis, dan Irak. Ketergantungan pada pasar Eropa itu membuat setiap perubahan ekonomi di kawasan tersebut sangat menentukan masa depan ekspor Turki. Tetapi ancaman lain datang dari arah selatan.
Konflik AS-Israel-Iran mulai meninggalkan jejak pada perdagangan Turki. Ekspor ke negara-negara Teluk sempat merosot hingga 30 persen dari bulan ke bulan akibat ketegangan geopolitik di kawasan.
Meski pengiriman mulai pulih pada April dan Mei, gejolak kawasan masih menjadi faktor yang terus dibayangi pelaku usaha Turki. Di tengah situasi itu, sektor mana yang justru melesat paling cepat?
sumber : Xinhua

4 hours ago
1

















































