Saham Sawit Masih Banyak yang Murah, Mana Paling layak Dikoleksi?

2 hours ago 1

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia

24 February 2026 08:45

Jakarta, CNBC Indonesia - Masih banyak saham emiten produsen minyak sawit atau Crude Palm Oil (CPO) masih pada murah, padahal katalis positif mulai berdatangan dari bebas bea ekspor ke Amerika Serikat (AS) dan momentum Ramadan.

Berdasarkan data hingga 23 Februari 2026, valuasi sejumlah saham sawit papan utama masih berada di bawah rata-rata historisnya, ditambah geraknya dari awal tahun juga masih cenderung laggard.

Tabel di atas memperlihatkan perbandingan antara Price to Earnings (PE) saat ini dengan rata-rata PE lima tahun (5Y mean PE), yang menjadi salah satu indikator apakah sebuah saham tergolong murah atau mahal secara historis.

Beberapa nama besar seperti PP London Sumatra Indonesia Tbk. (LSIP), Tunas Baru Lampung Tbk. (TBLA), dan Salim Ivomas Pratama Tbk. (SIMP) masih diperdagangkan di kisaran PE 4-5 kali, sementara rata-rata lima tahunnya berada di atas level tersebut.

Artinya, secara valuasi historis, saham-saham ini masih tergolong undervalue. Bahkan Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) yang dikenal sebagai salah satu pemain besar di sektor ini, saat ini diperdagangkan di PE sekitar 10 kali, lebih rendah dibandingkan rerata historisnya di atas 12 kali.

Selain itu, emiten seperti Teladan Prima Agro Tbk. (TLDN) dan Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG) juga masih tercatat berada di bawah rata-rata valuasi historisnya. Sementara Eagle High Plantations Tbk. (BWPT) masih menunjukkan valuasi yang relatif menarik dibandingkan rerata jangka menengahnya.

Di sisi lain, ada juga saham yang mulai mendekati atau bahkan melampaui valuasi wajarnya. Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG) misalnya berada di kisaran fair value dengan PE saat ini relatif sejalan dengan rata-rata historisnya.

Sementara itu, beberapa emiten lain seperti Gozco Plantations Tbk. (GZCO), Jhonlin Agro Raya Tbk. (JARR), dan Pradiksi Gunatama Tbk. (PGUN) justru terlihat overvalued karena PE saat ini sudah jauh melampaui rata-rata lima tahunnya.

Dari sisi pergerakan harga tahun berjalan atau year to date (YTD), mayoritas saham sawit juga belum menunjukkan lonjakan signifikan.

Beberapa bahkan masih terkoreksi dua digit. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar belum sepenuhnya merefleksikan potensi katalis yang ada, baik dari sisi kebijakan perdagangan maupun potensi peningkatan konsumsi domestik menjelang Ramadan.

Kombinasi valuasi yang relatif murah dan katalis positif yang mulai terbentuk membuat sektor CPO kembali menarik untuk dicermati.

Namun, investor tetap perlu memperhatikan faktor eksternal seperti harga CPO global, kebijakan hea ekspor yang akan dinaikkan pada Maret mendatang, mandatory B50 ditunda, serta dinamika permintaan dari negara tujuan utama sebelum mengambil keputusan investasi.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(saw/saw)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |