REPUBLIKA.CO.ID, BANJARMASIN — Perubahan teknologi dan meningkatnya tuntutan terhadap praktik pertambangan yang bertanggung jawab membuat kebutuhan sektor mineral dan batubara terhadap sumber daya manusia (SDM) ikut berubah. Generasi muda tidak lagi cukup hanya menguasai kompetensi teknis, tetapi juga dituntut memahami teknologi digital, keselamatan, lingkungan, keberlanjutan, dan etika.
Persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan ESDM Goes to Campus 2026 Subsektor Minerba yang digelar Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama Balai Besar Pengujian Mineral dan Batubara (BBPMB) tekMIRA dan Society of Renewable Energy (SRE) Indonesia di Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Senin (31/8/2026).
Lebih dari 300 mahasiswa dari ULM dan sejumlah perguruan tinggi lain di Kalimantan Selatan mendaftar kegiatan tersebut. Sebanyak 200 mahasiswa mengikuti rangkaian kegiatan secara langsung dengan materi yang mencakup praktik pertambangan yang baik, inovasi, hingga kesiapan memasuki dunia kerja.
Direktur Teknik dan Lingkungan Mineral dan Batubara Ahmad Syauqi mengatakan generasi muda perlu melihat sektor pertambangan tidak semata sebagai lapangan pekerjaan. Mahasiswa juga memiliki peluang untuk berperan sebagai peneliti, inovator, entrepreneur, pemimpin industri, maupun pembuat kebijakan.
Wakil Rektor IV Universitas Lambung Mangkurat Bidang Kerja Sama, Humas, dan Sistem Informasi Yusuf Azis mengatakan kebutuhan industri terhadap lulusan perguruan tinggi juga bergerak dari sekadar job-ready menuju future-ready.
Menurut dia, perubahan tersebut membutuhkan penguatan kompetensi teknis yang disertai literasi digital, pemahaman keberlanjutan, kepemimpinan, dan etika. Kolaborasi perguruan tinggi dengan industri juga diperlukan melalui kurikulum yang responsif, pembelajaran berbasis masalah dan proyek, keterlibatan praktisi, serta riset bersama.
Kebutuhan terhadap kemampuan mengembangkan solusi berbasis teknologi terlihat dari inovasi mahasiswa yang muncul dalam Innovation Harvest: Good Mining Practice Case Competition 2026.
Kompetisi tersebut sebelumnya menerima lebih dari 140 proposal mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Gagasan yang diajukan mencakup penerapan Good Mining Practice, pengelolaan lingkungan dan reklamasi pascatambang, hingga pengembangan dan pemberdayaan masyarakat.
Salah satu inovasi yang mendapat perhatian adalah SIGAP TAMBANG, sistem prediksi dan kendali otomatis berbasis AI-IoT untuk mitigasi risiko longsor highwall pada tambang batubara terbuka. Inovasi tersebut dikembangkan Tim Komando dari Politeknik Negeri Balikpapan yang kemudian terpilih sebagai Juara 1 Innovation Harvest 2026.
Regustian Dana dan Arkan Jihadi Asyrof, anggota Tim Komando, memaparkan inovasi tersebut dalam kegiatan ESDM Goes to Campus. Mereka menjelaskan latar belakang pengembangan inovasi, tantangan selama proses pengembangan, serta pengalaman mengikuti kompetisi tersebut.
Koordinator Kehumasan dan Informasi Publik Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Anggita Miftah Hairani mengatakan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan gagasan diperlukan agar persoalan di sektor pertambangan dapat dilihat dari perspektif generasi baru.
“Melalui Innovation Harvest, kami ingin memberikan ruang bagi mahasiswa untuk tidak hanya menyampaikan gagasan, tetapi juga membawa gagasan tersebut kepada audiens yang lebih luas,” ujar Anggita.
Tantangan SDM pertambangan juga berkaitan dengan semakin luasnya aspek yang harus diperhatikan dalam kegiatan pertambangan. Keselamatan kerja, pengelolaan lingkungan, inspeksi dan verifikasi, serta penerapan teknologi menjadi bagian dari kompetensi yang perlu dipahami calon tenaga kerja.
Hal tersebut dibahas dalam Youth Empowerment Talkshow yang menghadirkan perwakilan Ditjen Minerba, industri pertambangan, lembaga inspeksi dan verifikasi, serta akademisi. Diskusi membahas kebijakan, keselamatan dan lingkungan, inspeksi dan verifikasi, hingga kompetensi yang dibutuhkan generasi muda.
Sementara itu, Career Industry Talks mempertemukan mahasiswa dengan praktisi dari BBPMB tekMIRA, PT Arutmin Indonesia, PT Putra Perkasa Abadi, PT Borneo Indobara, dan PT SUCOFINDO. Pembahasan diarahkan pada kebutuhan kompetensi dan gambaran dunia kerja di sektor pertambangan.
Perubahan kebutuhan kompetensi tersebut menunjukkan bahwa tantangan sektor pertambangan ke depan tidak hanya berkaitan dengan bagaimana mengelola sumber daya mineral dan batubara, tetapi juga bagaimana menyiapkan tenaga kerja yang mampu mengoperasikan teknologi, memahami risiko, dan menjaga standar keselamatan serta lingkungan.
Karena itu, keterhubungan antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri menjadi penting agar pendidikan tidak berhenti pada penguasaan teori. Mahasiswa perlu memperoleh ruang untuk menguji pengetahuan melalui persoalan nyata sekaligus memahami kebutuhan industri yang terus berubah.
Pengembangan SDM dengan pendekatan tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam menyiapkan generasi pertambangan yang mampu menghadapi tuntutan praktik pertambangan yang lebih aman, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.

3 hours ago
7
















































