Jakarta, CNBC Indonesia- Badan Energi Internasional (IEA) telah mengusulkan pelepasan cadangan minyak terbesar yang pernah ada untuk mengatasi kenaikan harga minyak mentah yang dipicu oleh perang AS-Israel dengan Iran. Hal ini dilaporkan Wall Street Journal pada hari Selasa, mengutip pejabat yang mengetahui masalah tersebut.
"Pelepasan tersebut akan melebihi 182 juta barel yang dipasarkan oleh negara-negara anggota IEA pada tahun 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina," kata surat kabar tersebut dimuat AFP, Rabu (11/3/2026).
Usulan tersebut diedarkan pada pertemuan darurat para pejabat energi dari 32 negara anggota IEA pada hari Selasa. Keputusan diharapkan segera keluar hari ini.
Laporan ini membuat kenaikan harga minyak mentah tertahan. Rabu pagi, minyak mentah Brent turun 0,84 persen menjadi US$87,06 sementara West Texas Intermediate turun 1,02 persen menjadi US$82,60.
Sebelumnya dalam perdagangan Asia, WTI melonjak lebih dari 5% karena Presiden AS Donald Trump meningkatkan ancamannya seputar Selat Hormuz yang strategis, yang secara efektif telah ditutup oleh Iran.
Sementara itu, pasar saham Asia mengalami kenaikan, dengan indeks Nikkei di Tokyo bertambah sekitar 2% dan indeks Kospi di Korea Selatan naik sekitar 2,5%.
"Kiamat" Minyak
Kemarin, raksasa minyak dunia, Saudi Aramco, memperingatkan pasar bahwa gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz dapat memicu "konsekuensi bencana" bagi industri minyak dan ekonomi global. CEO Aramco Amin Nasser mengatakan konflik yang melibatkan Iran telah membuat jalur pengiriman energi paling vital di dunia itu nyaris lumpuh.
"Akan ada konsekuensi bencana bagi pasar minyak dunia dan semakin lama gangguan ini berlangsung, semakin drastis dampaknya terhadap ekonomi global," ujarnya kepada wartawan dalam konferensi pers laporan keuangan perusahaan, seperti dikutip Reuters.
Nasser menegaskan bahwa krisis ini merupakan salah satu gangguan terbesar yang pernah dialami industri energi di kawasan tersebut. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya.
"Meskipun kita telah menghadapi gangguan di masa lalu, krisis kali ini adalah krisis terbesar yang pernah dihadapi industri minyak dan gas di wilayah ini," katanya.
Di sisi lain, Aramco mengakui saat ini tidak dapat mengekspor minyak dari Teluk karena kapal tanker tidak bisa memuat kargo. Perusahaan masih mengandalkan persediaan global serta jalur pipa East-West yang mengalirkan minyak ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah dengan kapasitas hingga 7 juta barel per hari.
Namun bahkan dengan jalur alternatif tersebut, Nasser memperingatkan pasar tetap akan kehilangan pasokan besar. "Anda berbicara tentang hampir 350 juta barel gangguan pasokan yang akan keluar dari pasar," katanya.
(sef/sef)
Addsource on Google

2 hours ago
2

















































