REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Strategi hilirisasi yang dijalankan Holding Industri Pertambangan Indonesia (MIND ID) menjadi salah satu faktor utama yang menopang kinerja grup di tengah volatilitas harga komoditas dan gejolak geopolitik global sepanjang 2025. Penguatan rantai nilai dari sektor hulu hingga hilir membuat perusahaan-perusahaan anggota holding tetap mampu mencatatkan kinerja positif meski menghadapi tekanan pasar internasional.
Pengamat BUMN Universitas Indonesia (UI) Toto Pranoto menilai capaian Grup MIND ID sepanjang 2025 menunjukkan keberhasilan transformasi bisnis yang tidak lagi bergantung semata pada kenaikan harga komoditas. Menurut dia, integrasi bisnis yang semakin kuat menjadi fondasi penting dalam menjaga kinerja perusahaan.
"Kinerja ini menunjukkan kemampuan MIND ID dalam integrasi hulu ke hilir bisnis yang semakin baik. Di luar windfall profit yang diperoleh karena harga komoditas yang meningkat akibat situasi geopolitik yang tidak stabil," kata Toto dalam keterangannya di Jakarta, dikutip Senin (8/6/2026)
Ia menyebut, hasil yang dicapai perusahaan-perusahaan anggota holding menunjukkan strategi peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi mulai memberikan dampak nyata terhadap ketahanan bisnis. Langkah tersebut membuat kinerja perusahaan lebih terjaga meski pasar komoditas global bergerak fluktuatif.
Salah satu contoh penguatan hilirisasi terlihat pada kinerja PT Freeport Indonesia (PTFI). Perusahaan itu membukukan laba bersih sebesar 2,52 miliar dolar AS atau sekitar Rp42,07 triliun pada 2025. Pendapatan PTFI pada periode yang sama mencapai 8,62 miliar dolar AS atau sekitar Rp143,9 triliun.
Kinerja tersebut tidak hanya ditopang operasi tambang tembaga dan emas di Papua, tetapi juga didukung penguatan hilirisasi melalui fasilitas smelter tembaga di Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE) Gresik. Kehadiran fasilitas pengolahan ini memperbesar nilai tambah mineral yang diproduksi di dalam negeri.
Penguatan rantai bisnis juga tercermin pada PT Aneka Tambang Tbk (Antam). Emiten berkode ANTM itu membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp7,92 triliun pada 2025, melonjak 106 persen dibandingkan laba tahun sebelumnya sebesar Rp3,85 triliun.
Pertumbuhan laba Antam berjalan seiring kenaikan pendapatan 22 persen menjadi Rp84,64 triliun dari Rp69,19 triliun pada 2024. Bisnis emas menjadi penopang utama dengan kontribusi sekitar 79 persen terhadap total penjualan perusahaan. Penjualan emas tercatat mencapai Rp66,47 triliun atau meningkat 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp57,56 triliun.
PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) juga mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 15 persen sepanjang 2025. Pendapatan perusahaan meningkat sekitar 10 persen menjadi 785,7 juta dolar AS, mencerminkan stabilitas operasional di tengah fluktuasi harga aluminium global.
Kinerja positif turut ditunjukkan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang membukukan kenaikan pendapatan 4,19 persen menjadi 990,19 juta dolar AS. Pertumbuhan tersebut mencerminkan efisiensi operasional yang konsisten pada kegiatan produksi nikel di Sorowako, Sulawesi Selatan.
Sementara itu, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mampu menjaga profitabilitas meski menghadapi tekanan harga batu bara global. Perusahaan mencatat laba bersih Rp2,93 triliun dengan pendapatan Rp42,65 triliun yang relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya.
Harga Newcastle Index sepanjang 2025 tercatat turun 22 persen secara tahunan, sedangkan Indonesia Coal Index (ICI-3) melemah 16 persen. Di tengah kondisi tersebut, PTBA meningkatkan volume penjualan sebesar 6 persen dengan komposisi pasar domestik 54 persen dan ekspor 46 persen ke Bangladesh, India, Vietnam, Korea Selatan, serta Filipina.
Dari komoditas timah, PT Timah Tbk (TINS) membukukan laba bersih Rp1,31 triliun atau setara 119 persen dari target RKAP 2025. Pendapatan perusahaan meningkat 6,41 persen menjadi Rp11,55 triliun dari Rp10,86 triliun pada tahun sebelumnya.
Secara keseluruhan, kinerja Grup MIND ID sepanjang 2025 menunjukkan strategi hilirisasi dan diversifikasi komoditas mampu memperkuat ketahanan bisnis di tengah dinamika pasar global. Integrasi rantai nilai dari sektor hulu hingga hilir menjadi penopang utama pertumbuhan perusahaan sekaligus menjaga kontribusi holding terhadap penerimaan negara melalui pajak, royalti, dan dividen.

4 hours ago
1

















































