Studi: Asap Kebakaran Hutan Lebih Beracun Dibandingkan Polusi Udara Lainnya

1 hour ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Asap kebakaran hutan berpotensi menimbulkan risiko kesehatan lebih besar dibandingkan polusi udara lainnya. Kesimpulan itu muncul dari dua studi berskala besar yang dilakukan peneliti dari Icahn School of Medicine at Mount Sinai, Amerika Serikat, yang dipublikasikan di Jurnal The Lancet pada September 2026.

Studi pertama menemukan, paparan asap kebakaran hutan berkaitan dengan menurunnya peluang bertahan hidup pasien kanker paru-paru. Studi kedua mengungkapkan paparan jangka panjang polusi kebakaran hutan terkait denga npeningkatan risiko rawat inap akibat berbagai penyakit jantung dan paru-paru.

Kedua studi ini dipimpin oleh peneliti Min Zhang dan penulis senior Yaguang Wei. Menurut Wei, temuan tersebut menunjukkan bahwa dalam menilai dampak polusi udara, bukan hanya jumlah polusi yang penting, tetapi juga sumbernya.

"Penelitian kami menunjukkan bahwa polusi partikel yang berkaitan dengan kebakaran hutan lebih berbahaya dibandingkan tingkat polusi dari sumber lain. Seiring meningkatnya aktivitas kebakaran hutan, kebijakan kesehatan masyarakat dan lingkungan harus mempertimbangkan baik jumlah maupun sumber polusi udara," kata Wei dilansir laman US News, Rabu (23/9/2026).

Kedua penelitian berfokus pada PM2.5, yakni partikel polusi udara berdiameter 2,5 mikron atau lebih kecil. Karena ukurannya sangat kecil, PM2.5 dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan bahkan mencapai aliran darah. Partikel ini dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk kendaraan, aktivitas industri, pertanian, serta kebakaran hutan.

Untuk studi pertama, para peneliti menganalisis data 414.016 orang dewasa berusia 65 tahun ke atas yang menderita kanker paru-paru. Data tersebut berasal dari basis data SEER-Medicare untuk periode 2006 hingga 2019.

Peneliti kemudian menilai paparan PM2.5 yang berasal dari kebakaran hutan dan PM2.5 dari sumber lain berdasarkan lokasi tempat tinggal pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan terhadap kedua jenis PM2.5 berkaitan dengan peningkatan risiko kematian setelah diagnosis kanker paru-paru.

Namun ketika dibandingkan pada peningkatan paparan dalam jumlah yang sama, PM2.5 dari kebakaran hutan menunjukkan toksisitas yang lebih besar. Peneliti juga menemukan bahwa semakin banyak hari dengan kondisi berasap dan semakin lama periode paparan asap, semakin buruk hasil kelangsungan hidup pasien.

Secara keseluruhan, asap kebakaran hutan hanya menyumbang sekitar 4 persen dari total paparan PM2.5 yang dialami pasien dalam penelitian tersebut. Namun para peneliti mencatat, paparan dari kebakaran hutan berkontribusi terhadap sekitar 17 persen kematian yang berkaitan dengan paparan PM2.5.

"Pasien dengan kanker paru-paru sudah rentan secara medis, dan temuan kami menunjukkan bahwa asap kebakaran hutan dapat menempatkan mereka pada risiko yang lebih besar," kata peneliti Min Zhang.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |