Suram, Rupiah Diprediksi Merosot ke Rp17 Ribu pada Pekan Depan, Kenapa Ya?

2 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan segera melanjutkan pelemahan menuju level Rp 17.000 per dolar AS. Diprediksi posisi tersebut bisa ditembus pada pekan depan. 

Mengutip Bloomberg, rupiah melemah 31 poin atau 0,18 persen menjadi Rp 16.896 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (15/1/2026). Pada perdagangan sebelumnya, rupiah berada di posisi Rp 16.865 per dolar AS. 

“Rupiah diperkirakan minggu depan tembus Rp 17.000 per dolar AS. Rentangnya Rp 16.840—Rp 17.000 per dolar AS,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (15/1/2026). 

Ibrahim menjelaskan, pelemahan Mata Uang Garuda dipengaruhi oleh berbagai sentimen, baik sentimen eksternal maupun internal. Sentimen eksternal diantaranya dinamika tensi geopolitik, konflik perpolitikan di AS, dan data ekonomi AS.

“Ketegangan antara AS dan Iran mereda setelah Trump mengatakan pada Rabu bahwa ia telah diyakinkan bahwa otoritas Iran akan berhenti membunuh para demonstran dan bahwa ia percaya saat ini tidak ada rencana untuk eksekusi skala besar, meredakan kekhawatiran bahwa Washington sedang mempersiapkan respons militer segera terhadap demonstrasi menentang pemerintah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei,” ujarnya. 

Kemudian, konflik geopolitik mengalami dinamika antara AS dan Venezuela. AS mengisyaratkan pembicaraan positif dengan Venezuela, setelah Presiden AS mengatakan ia berbicara pada Kamis sebelumnya dengan pemimpin sementara Venezuela, Delcy Rodríguez. Trump menggambarkan panggilan tersebut sebagai sangat positif, dengan mengatakan bahwa diskusi yang mencakup minyak, mineral, perdagangan dan keamanan nasional membuat kemajuan yang luar biasa, saat AS membantu Venezuela menstabilkannya, dan kemudian diklaim pulih. 

Sentimen eksternal lainnya berkaitan dengan perpolitikan di AS, yakni antara Trump dan Gubernur The Fed Jerome Powell. Dalam sebuah wawancara dengan Reuters, Trump mengatakan dia tidak berencana untuk memecat Powell, meskipun ada penyelidikan yang sedang berlangsung, meredakan kecemasan investor atas independensi kebijakan moneter AS.

Data ekonomi AS juga menjadi salah satu sentimen yang memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah. Laporan Indeks Harga Produsen (PPI) di AS untuk Oktober menunjukkan, harga produsen jauh dari target 2 persen Fed, namun para pedagang tetap yakin bahwa bank sentral akan memangkas suku bunga pada tahun 2026. 

Data lebih lanjut mengungkapkan, penjualan ritel melebihi perkiraan, sebuah indikasi bahwa rumah tangga AS meningkatkan pengeluaran, sebagian besar untuk kendaraan bermotor dan lainnya.

“Hari ini fokus pasar adalah klaim pengangguran awal untuk minggu yang berakhir pada 10 Januari, dengan perkiraan bahwa 215 ribu warga Amerika mengajukan tunjangan pengangguran, di atas 208 ribu yang terlihat pada minggu sebelumnya,” terangnya.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |