Teknologi Tepat Guna Dorong Kelurahan Gedog Jadi Sentra Ekonomi Sirkular dan Produk Inovatif

6 hours ago 2
Teknologi Tepat Guna Dorong Kelurahan Gedog Jadi Sentra Ekonomi Sirkular dan Produk Inovatif Tim pengabdian Unisba Blitar dan Universitas Widyagama Malang.(Dok.Unisba)

UPAYA membangun kemandirian ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal terus dilakukan di Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar. 

Melalui Program Pemberdayaan Masyarakat Desa Binaan Tahun II dengan tujuan tingkatkan kapasitas Produksi dan manajemen pada mitra, tim pengabdian Universitas Islam Balitar (Unisba) Blitar dan Universitas Widyagama Malang melaksanakan rangkaian sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan kepada masyarakat dan dua kelompok mitra, yakni Bank Sampah Gong Lestari dan Pokmas Hidrofarm.

Program yang mengusung pengembangan ekonomi sirkular melalui produk konversi limbah plastik dan ekstraksi minyak sereh merah tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas produksi, keterampilan masyarakat, pengelolaan usaha, serta pemasaran produk berbasis potensi lokal.

Ketua Program, Palupi Puspitorini, mengatakan bahwa kegiatan tidak berhenti pada pemberian teknologi, tetapi diarahkan agar masyarakat mampu mengoperasikan teknologi, mengembangkan produk, sekaligus mengelola usaha secara mandiri secara berkelanjutan untuk meningkatkan kapasitas ekonominya.

“Kami ingin teknologi tepat guna yang diberikan benar-benar menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat. Karena itu, pendekatannya bukan hanya sosialisasi dan pelatihan, tetapi dilanjutkan dengan praktik serta pendampingan agar mitra mampu menerapkan teknologi, menghasilkan produk, dan mengembangkan pemasarannya secara mandiri,” ujar Palupi.

MITRA BANK SAMPAH
Pada mitra Bank Sampah Gong Lestari, program difokuskan pada penguatan pengelolaan sampah plastik melalui prinsip reduce, reuse, recycle (3R). Sampah yang sebelumnya hanya dikumpulkan dan dijual dalam bentuk glondong kini dikembangkan melalui teknologi pencacahan atau crushing menjadi plastic flakes. Data hasil pelaksanaan menunjukkan adanya peningkatan produksi dari lebih dari 75%. Lebih signifikan lagi, harga jual meningkat sehingga berdampak padapeningkatan pendapatan mitra. 

Pelatihan juga meningkatkan pemahaman anggota mengenai teknik pengolahan plastik. Hasil evaluasi menunjukkan rata-rata peningkatan pemahaman sebesar 55%, dengan peningkatan terbesar pada aspek cara pembuatan plastik crushing sebesar 75%. 

Ketua Bank Sampah Gong Lestari, Ibu Sutji Pudjiastuti, menyambut positif pendampingan yang dilakukan tim Unisba. “Dengan adanya pendampingan ini, kami tidak hanya belajar mengelola sampah, tetapi juga melihat bahwa sampah plastik bisa menjadi bahan yang mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi. Mesin pencacah membantu kami meningkatkan kapasitas produksi, sementara pendampingan membuka wawasan untuk mengembangkan produk dan pemasaran.”

Menurutnya, keberadaan teknologi tersebut memberikan motivasi kepada anggota untuk semakin aktif melakukan pemilahan dan pengolahan sampah. Sementara itu, Pokmas Hidrofarm mendapatkan pendampingan dalam pengembangan budidaya sereh merah hingga diversifikasi produk turunannya.

PELAKSANAAN LATIHAN
Pelatihan dilakukan mulai dari teknik budidaya, pembibitan dan pemeliharaan, hingga proses ekstraksi menggunakan peralatan distilasi. Tidak berhenti pada produksi minyak, tim juga memberikan pelatihan pembuatan produk turunan berupa lilin aromaterapi dan parfum/reed diffuser. Hasil pelaksanaan menunjukkan produksi masing-masing mencapai 200 botol, dengan pendapatan produk sebesar Rp5 juta. 

Ketua Pokmas Hidrofarm, Andi Ahmad Setyobudi, mengungkapkan bahwa pendampingan memberikan pengalaman baru bagi anggota dalam mengembangkan produk pertanian menjadi produk agroindustri.

“Pendampingan ini sangat membantu kami karena sebelumnya kami lebih banyak berfokus pada bahan baku dan minyak sereh. Sekarang kami belajar mengembangkan minyak sereh menjadi produk yang lebih siap dipasarkan, seperti lilin aromaterapi dan reed diffuser berbahan baku minyak sereh merah. Kami juga belajar tentang pencatatan usaha dan pemasaran digital," ujar Andi Ahmad.

Program tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi. Aspek manajemen usaha dan sumber daya manusia juga menjadi perhatian. Pelatihan manajemen keuangan, pencatatan produksi dan penjualan, penetapan target produksi, serta digital marketing diberikan kepada kelompok mitra.

Pada Pokmas Hidrofarm, pemahaman peserta mengenai minyak sereh meningkat rata-rata 48%, sedangkan pemahaman mengenai teknik penyulingan meningkat hingga 80%. Tingkat partisipasi anggota mencapai 75%, melampaui target 70%. 

Pemasaran digital juga mulai memperluas jangkauan produk Hidrofarm. Produk minyak sereh merah, reed diffuser, dan lilin aromaterapi tidak lagi hanya diarahkan untuk pasar lokal Blitar, tetapi mulai diperkenalkan ke wilayah Malang, Kediri, Surabaya, dan Yogyakarta melalui media digital. 

KELURAHAN BERDAMPAK
Lurah Gedog, Yulian Nurdin Ahmad, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan program yang melibatkan masyarakat secara langsung. “Kami sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan di Kelurahan Gedog. Program ini memberikan manfaat nyata karena masyarakat tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga mendapatkan keterampilan dan pendampingan untuk mengembangkan potensi yang ada di wilayah kami. Bank sampah dan kelompok Hidrofarm menjadi contoh bahwa potensi lokal dapat dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi produktif.”

Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah kelurahan, kelompok masyarakat, dan pelaku usaha menjadi modal penting untuk membangun keberlanjutan program.

“Harapan kami, kegiatan ini terus berkembang sehingga Kelurahan Gedog benar-benar menjadi kelurahan yang berdampak, baik dari sisi lingkungan, sosial maupun ekonomi masyarakat,” tambahnya.

Ketua Program, Ir. Palupi Puspitorini, MP, menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah alat atau produk yang dihasilkan, tetapi dari kemampuan mitra untuk melanjutkan kegiatan secara mandiri.

“Ukuran keberhasilan kami adalah ketika kelompok mampu melanjutkan proses produksi, mengelola usahanya, menjaga kualitas produk, dan memperluas pasar tanpa selalu bergantung pada tim pendamping. Teknologi harus menjadi alat untuk membangun kemandirian masyarakat,” jelasnya.

Hasil pelaksanaan program menunjukkan bahwa kedua mitra telah mengalami perubahan pada aspek produksi, manajemen, sosial budaya, dan ekonomi. Bank Sampah Gong Lestari mampu meningkatkan nilai ekonomi pengolahan plastik, sementara Pokmas Hidrofarm berhasil mengembangkan rantai usaha dari budidaya sereh merah, produksi minyak atsiri hingga produk turunannya. 

EKONOMI SIRKULAR
Kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa ekonomi sirkular dapat dikembangkan dari tingkat masyarakat melalui pemanfaatan limbah dan potensi pertanian lokal. 

Bank Sampah Gong Lestari mengubah limbah plastik menjadi sumber daya ekonomi, sedangkan Hidrofarm mengembangkan komoditas sereh merah menjadi produk agroindustri bernilai tambah. 

Dengan sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah kelurahan, kelompok masyarakat, dan mitra usaha, Kelurahan Gedog diharapkan semakin berkembang sebagai kawasan pemberdayaan berbasis teknologi tepat guna, ekonomi sirkular, dan inovasi produk lokal.

Program ini membuktikan: ketika teknologi bertemu dengan pendampingan dan potensi lokal, sampah dapat menjadi rupiah dan tanaman sereh dapat menjadi produk bernilai tambah. (E-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |