REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kurangnya waktu tidur pada remaja menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya risiko obesitas. Kebiasaan tidur larut malam tidak hanya mengganggu ritme biologis tubuh, tetapi juga mendorong pola makan tidak sehat yang memperparah kondisi tersebut.
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Dr Nur Aisiyah Widjaja, menegaskan pentingnya pengaturan waktu tidur yang tepat. Ia menyebut, idealnya seseorang mulai tidur maksimal pada pukul 21.00, seiring meningkatnya hormon melatonin yang berperan dalam mengatur siklus tidur.
“Apabila tidur melebihi jam tersebut, hormon melatonin akan tergantikan oleh hormon lain seperti leptin yang dapat meningkatkan rasa lapar dan keinginan untuk makan,” ujar Aisiyah dalam keterangannya.
Kondisi ini kerap diikuti kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi kalori pada malam hari. Remaja, misalnya, cenderung memilih mi instan, gorengan, atau camilan lainnya yang tidak seimbang secara gizi.
Asupan kalori berlebih pada malam hari menjadi masalah tersendiri. Saat tubuh tidak lagi aktif bergerak, energi yang masuk tidak terbakar secara optimal sehingga berpotensi disimpan sebagai lemak.
Tidak hanya itu, kurang tidur juga sering berkaitan dengan tingkat stres yang meningkat. Saat stres, tubuh memproduksi hormon kortisol yang dapat mengganggu pelepasan melatonin, sehingga memperburuk kualitas tidur.
“Karena itu, penting menjaga keseimbangan, tidak hanya pola makan tetapi juga manajemen stres,” kata Aisiyah.
Di sisi lain, kekhawatiran publik selama ini banyak tertuju pada paparan cahaya biru dari layar gawai sebagai penyebab utama gangguan tidur. Namun, temuan ilmiah terbaru menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat.
Penelitian yang dihimpun dari berbagai studi menyebutkan bahwa dampak cahaya biru dari perangkat seperti ponsel dan laptop terhadap kualitas tidur relatif kecil. Bahkan, pengaruhnya hanya menunda waktu tidur dalam hitungan menit.
Ahli dari Universitas Stanford, Jamie Zeitzer, menjelaskan bahwa cahaya biru memang dapat memengaruhi sistem sirkadian, tetapi intensitas cahaya dari layar perangkat modern jauh lebih rendah dibandingkan cahaya alami dari matahari.

2 hours ago
2
















































