Ilustrasi(magnific)
AKTIVITAS bepergian atau traveling kini telah menjadi bagian rutin dari gaya hidup masyarakat Indonesia seiring dengan meningkatnya mobilitas. Berdasarkan data Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, perjalanan wisatawan nusantara sepanjang Januari hingga November 2025 telah menembus angka 1,09 miliar perjalanan, sebuah pencapaian yang melampaui target nasional.
Tren ini membawa dilema tersendiri bagi pemilik hewan peliharaan atau anabul. Memutuskan apakah hewan kesayangan harus ikut bepergian atau dititipkan menjadi pertimbangan krusial. Data menunjukkan bahwa semakin banyak pemilik yang memilih membawa serta hewan mereka saat liburan panjang.
| Total Perjalanan Wisnus (Jan-Nov 2025) | 1,09 Miliar Perjalanan |
| Hewan Terangkut KAI Logistik (Ramadan-Idulfitri 2026) | 13.435 Ekor |
| Puncak Pengiriman Mingguan Anabul | +/- 3.700 Ekor |
| Provinsi Endemis Rabies di Indonesia | 26 dari 38 Provinsi |
Risiko Kesehatan dan Tips Menjaga Anabul
Perjalanan jauh dan lingkungan baru dapat memicu stres fisik maupun psikologis pada hewan. Perubahan suhu serta interaksi dengan hewan lain di tempat penitipan maupun lokasi tujuan meningkatkan risiko penularan penyakit, termasuk rabies. Boehringer Ingelheim Indonesia menekankan pentingnya persiapan matang melalui langkah-langkah berikut:
- Vaksinasi dan Cek Kesehatan: Pastikan vaksinasi rutin lengkap dan kondisi fisik prima sebelum berangkat. Mengingat 26 provinsi di Indonesia masih endemis rabies, perlindungan melalui vaksin adalah hal yang tidak bisa ditawar.
- Batasi Interaksi Asing: Gunakan tali pengaman atau kandang portabel saat di lokasi tujuan. Awasi interaksi dengan hewan lain untuk mencegah cedera atau paparan virus.
- Observasi Pascaperjalanan: Amati perilaku anabul setelah kembali ke rumah. Segera hubungi dokter hewan jika muncul gejala lemas, hilang nafsu makan, muntah, atau perilaku agresif yang tidak biasa.
Argho Das, President Director Boehringer Ingelheim Indonesia, menyatakan bahwa meningkatnya mobilitas membuka peluang paparan risiko kesehatan.
"Memastikan hewan peliharaan telah divaksinasi dengan lengkap serta dipantau kondisinya menjadi langkah penting untuk melindungi tidak hanya hewan, tetapi juga keluarga dan masyarakat luas," ujarnya.
Komitmen Global dan Lokal Menuju Indonesia Bebas Rabies 2030
Rabies tetap menjadi ancaman serius global yang merenggut ribuan nyawa setiap tahun, dengan 40% korban adalah anak-anak di Asia dan Afrika. Padahal, penyakit ini 100% dapat dicegah melalui vaksinasi. Melalui program Stop Rabies, Boehringer Ingelheim aktif melakukan edukasi berkelanjutan.
Di Indonesia, kolaborasi dengan Bali Animal Welfare Association (BAWA) melalui program SD4G (Stop Rabies Education) telah menunjukkan hasil signifikan.
Pada 2025, program ini berhasil menjangkau 12.356 siswa di 85 sekolah, melampaui target awal 10.000 peserta. Inisiatif ini sejalan dengan visi Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan untuk mewujudkan Indonesia bebas rabies pada tahun 2030.
Kesimpulan: Kesiapan pemilik dalam memberikan vaksinasi rutin dan pengawasan ketat selama perjalanan menjadi kunci agar momen mudik tetap aman dan menyenangkan bagi seluruh anggota keluarga, termasuk anabul kesayangan.
(Z-1)


















































