REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Persaingan Eurofighter Typhoon dan Sukhoi Su-35S kembali menjadi perhatian ketika Eropa mempercepat modernisasi armada tempurnya, sedangkan Rusia terus memproduksi Su-35S setelah memperoleh pengalaman perang udara selama lebih dari empat tahun di Ukraina.
Eurofighter pertama dalam program Quadriga melakukan penerbangan perdana pada 14 Juli 2026 di Manching. Pesawat Tranche 4 tersebut diproduksi untuk Angkatan Udara Jerman dan dijadwalkan mulai diserahkan pada 2026. Airbus menyebut pesawat itu membawa peningkatan perangkat keras dan perangkat lunak Phase 3 Enhancements serta radar E-Scan baru untuk operasi udara-ke-udara dan udara-ke-darat.
Modernisasi juga berlangsung di Inggris. Defence Equipment and Support memberikan kontrak senilai 453,5 juta pound sterling kepada BAE Systems dan Leonardo UK untuk memproduksi 40 radar European Common Radar System Mark 2 atau ECRS Mk2. Radar tersebut akan dipasang pada 40 Typhoon Tranche 3 milik Royal Air Force. Pengiriman diperkirakan dimulai sebelum akhir dekade, sehingga kemampuan itu belum dapat dianggap tersedia pada Typhoon Inggris yang bertugas sekarang.
Di pihak Rusia, United Aircraft Corporation pada 2026 kembali menyerahkan satu kelompok Su-35S baru kepada Angkatan Udara Rusia. Produksi itu menunjukkan Moskow masih menempatkan Su-35S sebagai salah satu unsur penting armada tempurnya meskipun Su-57 mulai memasuki layanan.
Perbandingan keduanya tidak cukup dilakukan dengan melihat kecepatan maksimum atau manuver dalam pertunjukan udara. Pertempuran modern ditentukan oleh rangkaian yang lebih panjang: siapa lebih dahulu mendeteksi lawan, membentuk data sasaran yang akurat, meluncurkan rudal dari posisi menguntungkan, mengacaukan sensor musuh, dan mempertahankan hubungan dengan pesawat peringatan dini serta radar darat, sebagaimana diberitakan sejumlah media Barat dan Rusia beberapa waktu lalu.
Su-35S Lebih Besar, Typhoon Mengandalkan Efisiensi Energi
Su-35 merupakan pesawat kelas berat yang dikembangkan dari keluarga Su-27. Berdasarkan lembar data ekspor Rosoboronexport, pesawat tersebut memiliki berat lepas landas maksimum 34,5 ton, muatan persenjataan maksimum delapan ton, dan kecepatan maksimum Mach 2,25 pada ketinggian sekitar 11 ribu meter.
Dua mesin berpengarah daya dorongnya masing-masing diklaim menghasilkan hingga 14.500 kilogram-gaya dalam moda tenaga khusus. Kemampuan itu memungkinkan Su-35 mempertahankan kendali pada sudut serang sangat tinggi dan melakukan manuver setelah kehilangan sebagian besar daya angkat aerodinamis.
Angka tersebut berasal dari materi pemasaran varian ekspor Su-35. Konfigurasi rinci Su-35S yang digunakan Rusia tidak seluruhnya dipublikasikan. Karena itu, data tersebut dapat menggambarkan karakter umum pesawat, tetapi tidak selalu identik dengan setiap pesawat operasional Rusia.
Typhoon berada dalam kelas yang lebih ringan. Pesawat itu menggunakan konfigurasi sayap delta-canard dan dua mesin EJ200. Setiap mesin menghasilkan daya dorong sekitar 90 kilonewton dengan afterburner, sehingga totalnya mencapai sekitar 180 kilonewton. Eurofighter juga mempunyai 13 stasiun senjata dan bahan bakar eksternal.

2 hours ago
1

















































