Yatim-Piatu Ikut Nenek Penjual Gorengan, Siswa Sekolah Rakyat ini Juara Olimpiade IPA

3 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Tidak semua anak memulai hidup dengan kemudahan. Sebagian harus tumbuh di tengah kehilangan, keterbatasan, dan ketidakpastian. Namun, dari kondisi itulah kadang lahir kekuatan yang tak terduga.

Itulah yang tergambar dari sosok Elang Khoirul Ramadhan (13), seorang siswa kelas 7 di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 7 Probolinggo, Jawa Timur. Di usianya yang masih sangat muda, Elang sudah memahami arti kehilangan dan perjuangan.

Ibunya meninggal saat ia masih duduk di bangku kelas 1 SD. Sementara ayahnya harus kembali ke kampung halaman di Solo. Sejak saat itu, Elang tinggal bersama neneknya di Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.

Meski rindu, Elang memilih menerima keadaan.

“Kalau kangen pasti kangen (ayah), tapi karena keadaannya seperti ini, ya harus dijalani,” ujarnya.

Hidup mereka sederhana. Sang nenek, Sri Aminah Ningsih, menghidupi keluarga dengan berjualan gorengan dan kopi di rumah. Penghasilannya tidak menentu, sekitar Rp100 ribu per hari, harus mencukupi kebutuhan hidup sekaligus pendidikan empat cucunya.

Di tengah keterbatasan itu, sebuah jalan terbuka.

Elang kemudian mengenal program Sekolah Rakyat melalui pendamping Program Keluarga Harapan (PKH). Namun, perjalanan itu tidak langsung mudah. Ia sempat merasa tidak betah saat pertama kali masuk sekolah tersebut.

“Awal pertama masuk, saya merasa tidak betah sebenarnya. Tapi karena ada peran wali asuh yang membantu, makin lama makin betah,” katanya.

Perubahan perlahan terjadi.

Kehidupan di asrama membentuk ritme baru yang lebih terarah. Hari-harinya kini diisi dengan kegiatan terstruktur: mulai dari salat berjamaah, mengaji, belajar, hingga apel malam.

Lingkungan itu tidak hanya membangun disiplin, tetapi juga menumbuhkan semangat.

Elang yang dulu lebih banyak bermain, kini mulai menemukan tujuan. Ia menunjukkan ketertarikan pada Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan robotik, bidang yang menuntut ketekunan dan rasa ingin tahu.

Kerja kerasnya pun berbuah hasil.

Ia berhasil meraih juara pertama dalam Olimpiade IPA tingkat Kota Probolinggo.

Prestasi itu tidak datang tanpa perjuangan. Elang harus belajar mandiri, mencari materi secara daring, bahkan menghadapi soal yang berbeda dari apa yang ia pelajari.

sumber : Antara

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |