Yogyakarta dan Romantisisme: Potret Kota Ideal atau Sekadar Persona?

2 hours ago 4

Image Layyna Aynalyakin

Wisata | 2026-07-28 18:50:22

Gambar Tugu Yogyakarta (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Siapa yang tidak mengenal kota Yogyakarta? Yogyakarta berarti Yogya yang kerta, atau Yogya yang makmur, sedangkan Ngayogyakarta Hadiningrat (bahasa Jawa) berarti Yogya yang makmur dan yang paling utama. Bagi sebagian besar orang, Yogyakarta selalu punya tempat yang spesial di hati. Masyarakat lokalnya terkenal dengan keramahannya dan menjunjung tinggi sopan santun, sehingga siapa pun yang berkunjung akan merasa disambut seperti keluarga sendiri. Sikap kekeluargaan yang menghargai kebersamaan dan rasa hormat antar sesama membentuk atmosfer kota yang hangat. Maka tidak heran jika banyak wisatawan yang memilih untuk berkunjung kembali ke Yogyakarta karena merasa diterima. Namun, belakangan muncul pertanyaan: apakah kini kota Yogyakarta sudah terlalu diromantisisasi?

Kenapa Yogyakarta Sering Diromantisisasi?

Yogyakarta selalu dikaitkan dengan nuansa nostalgia dan romantisisme karena menjadi ikon kota pelajar. Ribuan mahasiswa dari berbagai daerah di seluruh Indonesia pernah merasakan hidup dan belajar di kota ini. Keberadaan universitas ternama seperti Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dan Universitas Islam Indonesia (UII) telah lama menjadi bagian dari identitas kota pelajar di Yogyakarta. Kehidupan kampus yang dinamis memberikan warna tersendiri terhadap kehidupan sosial kota, mulai dari diskusi intelektual hingga berbagai kegiatan seni dan budaya. Tali pertemanan yang erat juga menciptakan ikatan emosional yang mendalam terhadap kota ini. Kenangan dan cerita masa muda ini kelak akan terasa spesial ketika bernostalgia di masa depan.

Selain dikenal sebagai kota pelajar, Yogyakarta juga dikenal sebagai kota pariwisata yang masih hidup dan semakin berkembang. Wisatawan yang berkunjung dapat menemukan banyak sekali destinasi wisata, mulai dari wisata alam, wisata kuliner, wisata budaya dan sejarah, wisata religi, bahkan wisata petualangan. Berbagai destinasi ikonik di Yogyakarta telah mencuri perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara, seperti Keraton Yogyakarta yang merupakan pusat kebudayaan dan spiritual Jawa, Taman Sari yang dikenal sebagai kompleks istana air penuh sejarah yang menyusuri jejak masa lalu Kesultanan Ngayogyakarta, hingga situs-situs bersejarah yang menjadi warisan budaya UNESCO, Candi Prambanan dan Candi Borobudur.

Di pusat kota, Jalan Malioboro dan Tugu Yogyakarta merupakan jantung aktivitas yang sibuk dengan lalu-lalang kendaraan, pedagang kaki lima, pejalan kaki, serta toko-toko yang menjual beraneka macam buah tangan. Pada malam hari, pusat kota Yogyakarta diterangi lampu-lampu yang menjadikannya terlihat indah untuk dipandang, terutama pada monumen Tugu Yogyakarta. Banyak wisatawan menghabiskan waktu untuk berjalan kaki atau duduk-duduk santai sambil bercengkerama menikmati kecantikan kota Yogyakarta. Suasana ini memberikan pengalaman berwisata yang berkesan dan menyenangkan.

Tak hanya itu, media massa juga berperan besar dalam membangun dan memperkuat gambaran mengenai romantisisme kota Yogyakarta. Media massa secara konsisten menampilkan Yogyakarta sebagai kota yang penuh keramahan dan kehangatan. Berbagai tayangan televisi menayangkan Yogyakarta sebagai latar yang romantis. Artikel cetak dan berita daring pun sering menyoroti keunikan budaya, alam, dan tradisi masyarakat lokalnya yang sarat akan makna. Potret inilah yang kemudian menjadi narasi yang melekat di ingatan banyak orang.

Di era digital seperti sekarang ini, kehadiran media sosial semakin mempercepat dalam menyebarkan potret kota Yogyakarta ke khalayak yang lebih luas. Wisatawan yang sudah pernah mengunjungi Yogyakarta sering membagikan foto, video, dan cerita pribadi tentang pengalaman mereka di media sosial. Konten yang dibagikan tak jauh dari rekomendasi tempat kuliner enak, spot-spot foto cantik, aneka aktivitas wisata yang dapat dilakukan, hingga tip berlibur ke Yogyakarta dengan bujet murah. Konten-konten seperti ini banyak mendapat perhatian dan apresiasi. Sesama pengguna media sosial akan berinteraksi dalam menanggapi konten-konten tersebut. Fenomena ini menambah lapisan romantisisme pada potret kota Yogyakarta yang menyimpan sejuta cerita pribadi dan kolektif. Potret romantis ini terkadang menciptakan persepsi ideal mengenai kehidupan di Yogyakarta, yang mungkin saja berbeda dengan realita sehari-hari.

Dampak Romantisisasi Kota Yogyakarta

Romantisisasi di kota Yogyakarta membawa dampak bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, meningkatnya citra romantisisme dan kenangan manis tentang Yogyakarta berhasil menarik perhatian orang-orang untuk mengunjungi kota ini, baik sekadar berwisata maupun menetap untuk menimba ilmu. Jumlah lonjakan kunjungan yang bertambah pesat setiap tahunnya memberikan kontribusi yang signifikan terhadap ekonomi masyarakat lokal. Usaha penginapan, kuliner, kerajinan tangan, dan usaha jenis pariwisata lainnya akan selalu didatangi pengunjung. Pendapatan yang dihasilkan dari usaha-usaha tersebut mampu membuka lapangan kerja baru serta menggerakan perekonomian daerah.

Namun, di sisi yang lain, dampak romantisisasi kota Yogyakarta tidak selalu membawa dampak baik. Lonjakan kunjungan yang tidak terkendali mengakibatkan kemacetan lalu lintas yang semakin parah, terutama di kawasan pusat kota. Menurut Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Dinas Pariwisata DIY, Antarikso Trisno Bawono, jumlah kunjungan wisatawan selama periode libur Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 (Nataru) tercatat lebih dari 1,3 juta orang. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu dan mengakibatkan kepadatan arus lalu lintas di sejumlah titik wisata. Muncul masalah-masalah seperti polusi udara dan penumpukan sampah, sehingga merusak lingkungan dan mengganggu kenyamanan masyarakat lokal maupun wisatawan.

Dari sisi sosial, keuntungan ekonomi dari pariwisata belum sepenuhnya merata. Masih banyak masyarakat lokal yang bertahan hidup dengan upah rendah, sementara biaya hidup dan harga properti semakin tinggi. Pada beberapa kasus, lahan dan rumah masyarakat lokal ada yang digantikan oleh pembangunan hotel, restoran, dan kafe modern yang lebih menguntungan wisatawan. Kondisi ini mengancam identitas budaya dan kesejahteraan masyarakat lokal. Ketidakseimbangan ekonomi pun berisiko menciptakan ketegangan sosial antar masyarakat.

Apakah kini kota Yogyakarta sudah terlalu diromantisisasi?

Kota Yogyakarta telah lama dikenal sebagai kota pelajar dan kota pariwisata. Cerita dari mulut ke mulut dan media massa telah membentuk potret romantisnya sebagai “kota penuh kenangan” yang hangat dan indah. Romantisisme ini berhasil menarik jumlah kunjungan setiap tahun yang berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi lokal melalui sektor pariwisata. Namun, romantisisme tersebut tidak selalu membawa dampak positif. Lonjakan kunjungan yang tinggi menyebabkan tekanan pada kemacetan, polusi, dan akumulasi sampah yang mengganggu kenyamanan.

Pertumbuhan ekonomi tidak sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat lokal yang masih menghadapi masalah upah rendah dan kenaikan biaya hidup. Dengan demikian, kota Yogyakarta kini memang sudah terlalu diromantisisasi. Romantisisme ini menguntungkan sekaligus berisiko, dan membutuhkan pengelolaan pariwisata berkelanjutan yang dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada. Kunci keberhasilan agar masa depan kota Yogyakarta tetap bersinar adalah kesadaran kolektif dari berbagai pihak untuk menjaga harmoni antara potret yang diromantisisasi dan realita yang sesungguhnya, sehingga Yogyakarta akan tetap menjadi tempat yang istimewa bagi semua pihak.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |