REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA— Pagi itu, suara palu, tawa anak-anak, dan obrolan hangat para relawan saling bersahutan di Desa Kalimanggis, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.
Sebagian orang mengecat dinding kelas, sebagian lainnya menata ruang belajar, sementara yang lain berdiskusi dengan para guru mengenai cara-cara baru mengajar yang lebih menarik bagi anak-anak.
Tidak ada panggung besar. Tidak ada seremoni yang berlebihan.
Yang ada hanyalah tiga puluh relawan yang datang membawa satu keyakinan sederhana yaitu perubahan pendidikan bisa dimulai dari tempat-tempat yang paling dekat dengan masyarakat.
Mereka adalah bagian dari Program Binar Asa, sebuah gerakan pemberdayaan masyarakat yang digagas Alazka Care, lembaga sosial di bawah Yayasan Al-Azhar Kelapa Gading (ALAZKA).
Melalui semangat "Guru Berdaya, Siswa Juara", program ini berupaya memperkuat pendidikan, kesehatan, dan kapasitas masyarakat melalui kerja kolaboratif yang melibatkan sekolah, keluarga, dunia usaha, dan warga setempat.
Di tengah berbagai upaya pemerintah mempercepat transformasi pendidikan nasional, tantangan pemerataan kualitas pendidikan masih menjadi pekerjaan besar bersama.
Data pendidikan nasional menunjukkan akses pendidikan terus membaik, namun peningkatan mutu guru, pemerataan sarana pembelajaran, dan penguatan kolaborasi lintas sektor masih menjadi kebutuhan yang mendesak.
Di sinilah Binar Asa mengambil peran.
Alih-alih hanya memberikan bantuan sesaat, program ini dirancang untuk membangun ekosistem pendidikan yang lebih kuat dari tingkat akar rumput.
Perjalanan Binar Asa di Tasikmalaya tidak dimulai dengan membawa bantuan, melainkan dengan mendengarkan.
Sejak November 2025, tim Alazka Care melakukan asesmen untuk memahami kebutuhan masyarakat di sekitar TK, TPQ, dan PAUD Insan Kamil di Desa Kalimanggis.
Dari proses tersebut lahir berbagai program yang kemudian dijalankan secara bertahap hingga Juni 2026.
Kegiatan meliputi penyaluran sarana pembelajaran, pelatihan media pembelajaran digital bagi guru, edukasi kesehatan, penguatan layanan Posyandu, hingga renovasi ringan ruang kelas. Puncaknya berlangsung pada 23 Juni 2026 lalu.
Hari itu, tiga puluh relawan yang terdiri dari guru dan tenaga kependidikan ALAZKA, orang tua murid, serta anggota masyarakat turun langsung ke lapangan.
Mereka bekerja bersama warga memperbaiki ruang kelas PAUD dan TK, menghias lingkungan belajar agar lebih ramah anak, menyerahkan berbagai alat pembelajaran, mendukung layanan kesehatan Posyandu, hingga membagikan bubur bayi sebagai bagian dari upaya mendukung pemenuhan gizi balita. Apa yang mereka lakukan mungkin terlihat sederhana.
Namun bagi anak-anak yang setiap hari belajar di ruang tersebut, perubahan kecil itu menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda.
Bagi Syahidin, salah seorang relawan sekaligus tenaga kependidikan ALAZKA, pengalaman mengikuti Binar Asa meninggalkan kesan yang mendalam.
Di sela-sela kegiatan, ia menyadari bahwa pendidikan ternyata tidak hanya dibangun oleh guru di ruang kelas.
Pendidikan tumbuh dari kepedulian banyak orang yang bersedia meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk membantu anak-anak mendapatkan lingkungan belajar yang lebih baik.
"Ini adalah pengalaman yang tidak akan saya lupakan. Saya bersyukur diberi kesempatan menjadi relawan Binar Asa dan bisa ikut membantu memperbaiki lingkungan belajar serta berbagi dengan anak-anak di TK Quran, Taman Pendidikan Quran, dan PAUD Insan Kamil Manonjaya," ujarnya.
Menurut Syahidin, kegiatan tersebut memberinya perspektif baru mengenai arti kontribusi sosial.
"Dari kegiatan ini saya belajar bahwa setiap orang, apa pun pekerjaannya, bisa berkontribusi untuk memajukan pendidikan jika dilakukan dengan tulus dan bersama-sama."

18 hours ago
8

















































