Ilustrasi(magnifik)
DINAS Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (Kaltim), mencatat terdapat 34 Orang dengan HIV (ODHIV), merupakan temuan kasus baru tahun 2026 per Juni kemarin, dimana tujuh diantaranya merupakan Ibu hamil. Demikian diungkapkan, Kepala Dinkes Berau, Lamlay Sarie, kepada Media Indonesia, Kamis (13/8).
Ia membeberkan, berdasarkan data Dinkes Berau hingga 2026, jumlah pelaksanaan pemeriksaan HIV alami peningkatan, dimana ada 2024 tercatat lebih dari 5.761 dan 2025 meningkat menjadi sekitar 7.257. Sedangkan tahun 2026 tercatat masih sekitar 3.136 orang.
“Sedangkan untuk data sementara jumlah ODHIV mencapai 169 dengan temuan sementara tahun 2026 sejumlah 34 ODHIV tujuh diantaranya merupakan Ibu hamil. temuan baru di tahun 2026 berjalan tidak dicampuradukkan dengan jumlah orang yang telah menjalani pemeriksaan,” bebernya
Jumlah yang menjalani pemeriksaan dengan temuan baru harus dibedakan. Kalau tes, semakin banyak semakin baik. Tetapi ia berharap angka kasus ODHIV baru tidak meningkat.
Menurutnya, target pemeriksaan dapat terus meningkat dengan bertambahnya jumlah penduduk, dan perluasan sasaran skrining atau pemeriksaan HIV. Dan tes atau skrining kini menjadi bagian dari layanan kesehatan bagi calon pengantin harapannya dilakukan sebanyak-banyaknya, dan mereka harus melakukan pemeriksaan.
Tujuh Ibu Hamil Ditemukan dari Hasil Screening
Selain itu, tambahnya, penguatan screening juga penting untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke anak. Dimana dari hasil screening itu ditemukan tujuh ibu hamil masuk dalam temuan kasus HIV tahun 2026 berjalan ini.
“Ibu hamil dengan HIV memiliki potensi menularkan virus kepada bayinya, sehingga membutuhkan pemeriksaan dan penanganan lanjutan. Pun ketika bayi lahir, pemeriksaan lanjutan tetap dilakukan guna mengetahui kondisi serta memastikan langkah penanganan yang diperlukan,” katanya.
Ditegaskan, pemeriksaan dan pengobatan bagi ODHIV tersedia secara gratis melalui layanan kesehatan. Dan menjadi bagian penting dalam upaya menekan perkembangan penyakit sekaligus mengurangi risiko penularan.
Untuk layanan pemeriksaan ini, lanjutnya, dapat diakses oleh masyarakat di berbagai fasilitas kesehatan, khususnya Puskesmas setempat. Selain menunggu partisipasi warga, tim Dinkes dan Puskesmas juga aktif turun langsung melakukan jemput bola ke sejumlah lokasi yang dinilai berpotensi serta rawan penularan, termasuk menjangkau area-area terpencil dan terluar di Kabupaten Berau.
Dominasi Terbesar Penyebab Utama Prilaku LSL
Lamlay menyatakan, berdasarkan data dan temuan di lapangan, terlihat adanya pergeseran signifikan terkait tren penularan HIV/AIDS di Kabupaten Berau. Jika pada masa lalu penularan terbesar didominasi oleh faktor penggunaan narkoba khususnya jarum suntik, saat ini penyebab utamanya telah bergeser ke perilaku hubungan seksual sesama jenis, yaitu Laki-laki Suka Laki-laki (LSL) atau gay.
”Sekarang LSL mendominasi penyebab penularan HIV berbeda kalau dulu terbanyak disebabkan oleh penggunaan jarum suntik yang digunakan oleh pecandu narkoba,” sebutnya.
Ia mengakui, temuan ini menjadi perhatian serius bagi pihaknya dan masyarakat luas. Selain bertentangan dengan nilai serta norma sosial masyarakat setempat, perilaku berisiko ini menjadi faktor risiko tertinggi penyeberangan dan lonjakan kasus penularan HIV/AIDS baru di Berau.
Ia kembali berharap, melalui penguatan skrining hingga ke area pelosok, Dinkes dapat mendeteksi kasus secara lebih dini, memberikan penanganan medis yang cepat dan tepat, serta memutus rantai penularan HIV/AIDS secara efektif.
Lamlay mengimbau, agar masyarakat mau melakukan pemeriksaan HIV dan tidak ragu. Karena itu menjadi langkah penting, bagi seseorang untuk mengetahui lebih awal status kesehatannya dan segera mendapatkan layanan penanganan ketika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya infeksi.
“Dan terpenting harus membangun pola hidup dan pergaulan yang sehat,” pungkasnya. (EM)















































