Eskalasi militer AS dan Iran meningkat setelah setidaknya tujuh tanker minyak diserang di Teluk Persia. Harga minyak sempat menembus US$100 per barel.(Centcom)
ESKALASI militer antara Serikat dan Iran memasuki fase baru yang berbahaya setelah setidaknya tujuh tanker minyak diserang di dalam dan luar kawasan Teluk Persia. Ketegangan ini sempat memicu kenaikan harga minyak mentah global hingga menembus angka US$100 dolar per barel untuk pertama kalinya sejak Juli. Minyak mentah acuan Brent tercatat naik 2,3% sebelum akhirnya sedikit menyusut.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi militer AS menyerang lima tanker Iran pada Selasa malam dan menenggelamkan salah satunya. Langkah ini diambil usai Iran menembakkan rudal balistik ke arah kapal perang Angkatan Laut AS.
Serangan AS menargetkan empat kapal pengangkut minyak mentah di Teluk Oman dan satu kapal di dekat Pulau Kharg yang menjadi pusat ekspor minyak Iran. Salah satu kapal, M/T Riesco, terlihat terbakar dan tenggelam di Teluk Oman. CENTCOM menyatakan pasukan AS telah menginstruksikan para awak kapal untuk melompat dan meninggalkan kapal sebelum serangan dilancarkan.
Sebagai balasan, Iran melepaskan rentetan rudal ke arah Yordania dengan target Pangkalan Udara Muwaffaq Salti yang digunakan pasukan AS. Militer Yordania mengonfirmasi sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat 18 dari 20 rudal balistik yang masuk, sementara dua rudal lainnya jatuh di area tak berpenghuni tanpa menimbulkan korban.
Serangan terhadap tanker berlanjut pada Rabu. Sebuah tanker berbendera Gibraltar, Hercules Star, diserang dron saat berlabuh di lepas pantai Dubai dan menewaskan seorang pelaut. Di wilayah utara, sebuah tanker berbendera Panama juga dihantam serangan tidak dikenal di perairan Irak yang mengakibatkan kerusakan pada lambung kapal tanpa memicu korban jiwa.
Meskipun belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan dua tanker terakhir, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebelumnya telah mengeluarkan peringatan keras.
"Seluruh awak kapal di atas tanker minyak di sekitar pelabuhan di Kuwait dan Bahrain, yang menampung para teroris (AS) ini dan menjadi mitra dalam aksi permusuhan mereka, untuk segera meninggalkan kapal mereka, baik yang sedang berlabuh maupun bersandar di pelabuhan, karena kapal-kapal tersebut akan dijadikan target," ancam IRGC.
Garda Revolusi Iran juga mengumumkan perluasan zona pembatasan maritim di kawasan Teluk Persia yang dimulai dari arah kota pelabuhan Chabahar di Teluk Oman hingga sebagian Laut Arab menuju Selat Hormuz.
Di sisi lain, Pemerintah AS menegaskan tidak akan tinggal diam atas setiap ancaman terhadap kapalnya di kawasan tersebut. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyampaikan peringatan terbuka kepada Teheran dari Barranquilla, Kolombia.
"Iran terus mencoba menghantam kapal-kapal Angkatan Laut AS dan setiap kali mereka melakukan atau mencoba hal itu, mereka akan kehilangan tanker-tanker mereka," tegas Rubio.
Konflik yang kian meruncing ini berimbas langsung pada sektor energi. Teheran berupaya menekan jalur transit Selat Hormuz guna menjaga harga minyak tetap tinggi demi memberikan tekanan politik pada pemerintahan Presiden Donald Trump. Di AS, harga bensin melonjak naik menembus US$4,15 per galon.
Terkait kenaikan tersebut, Trump memperkirakan Iran akan menghentikan konfrontasinya setelah pemilu sela AS, sembari mengakui harga bensin di dalam negeri sulit untuk turun sebelum momentum politik tersebut usai. (CNN/Z-2)


















































