Ilustrasi(AFP/BLAKE FAGAN)
BADAN Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE) dikabarkan akan segera melengkapi personel mereka dengan teknologi terbaru berupa sarung tangan yang mampu menghantarkan sengatan listrik. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya penguatan alat penegakan hukum di lapangan.
Berdasarkan catatan yang diterbitkan Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS), ICE berencana mengalokasikan dana hingga US$20 juta (sekitar Rp314 miliar) untuk membeli perangkat bernama Generated Low Output Voltage Emitter atau GLOVE. Kontrak pembelian tanpa tender ini diperkirakan akan dipublikasikan segera.
Spesifikasi dan Mekanisme Kerja GLOVE
Berbeda dengan alat kejut listrik konvensional seperti taser, GLOVE bekerja dengan prinsip yang berbeda. Alat ini dirancang untuk memberikan efek jera melalui rasa sakit tanpa harus menembakkan duri ke kulit target.
| Tegangan Listrik | Hingga 380 Volt (3x lipat stopkontak standar AS) |
| Frekuensi Pulsa | Hingga 30 pulsa per detik |
| Teknologi Pendukung | Mikroprosesor internal untuk merekam riwayat aktivasi |
| Metode Aktivasi | Tombol tekan manual |
Produsen alat ini, Compliant Technologies LLC, menyatakan bahwa perangkat mereka tidak menyebabkan cedera permanen. Namun, manual pengguna menyarankan agar alat ini tidak digunakan pada kelompok rentan seperti lansia, anak kecil, wanita hamil, dan penyandang disabilitas berat.
Tujuan Penggunaan dan Kontroversi
DHS menyatakan bahwa pengadaan ini bertujuan untuk memastikan petugas memiliki peralatan yang memadai untuk menangkap dan mendeportasi pelaku kriminal asing dengan aman. Rencananya, GLOVE akan digunakan oleh unit Homeland Security Investigations (HSI) dan Enforcement Removal Operations (ERO).
Namun, rencana ini memicu kekhawatiran serius dari kelompok hak sipil, termasuk American Civil Liberties Union (ACLU). Mereka menyoroti rekam jejak ICE yang belakangan ini berada di bawah pengawasan ketat akibat taktik kekerasan yang menyebabkan insiden fatal.
Kritik ACLU: "Memberikan agen imigrasi sarana tersembunyi untuk memberikan rasa sakit yang hebat adalah resep untuk lebih banyak bahaya bagi publik dan kurangnya akuntabilitas," ujar Jenn Rolnick Borchetta, Wakil Direktur Kepolisian di ACLU.
Kritik ini muncul di tengah laporan beberapa insiden fatal yang melibatkan agen imigrasi federal, seperti penembakan warga negara Meksiko Lorenzo Salgado Araujo di Texas dan warga negara Kolombia Johan Sebastián Durán Guerrero di Maine.
Para aktivis khawatir penggunaan sarung tangan listrik yang "tidak terlihat" oleh pengamat ini akan semakin mempersulit pengawasan terhadap tindakan berlebihan petugas di lapangan.
Hingga saat ini, beberapa lembaga penegak hukum di AS telah menggunakan teknologi serupa, namun pembelian oleh ICE ini diyakini akan menjadi pesanan terbesar bagi Compliant Technologies hingga saat ini. (bbc/Z-1)















































