(The Washington Post)
PRESIDEN Donald Trump mempromosikan kesepakatan akuisisi saham besar di cadangan minyak Venezuela sebagai terobosan yang akan mengubah keadaan. Trump mengklaim langkah ini akan menurunkan harga bahan bakar di pompa bensin dan mulai mengisi kembali cadangan minyak darurat pemerintah Amerika Serikat yang terkuras.
Namun, banyak pihak di industri minyak memperingatkan agar tidak mengharapkan pemulihan cepat. Ekstraksi minyak di wilayah tersebut dinilai sebagai upaya yang berbahaya, melelahkan, dan berbiaya tinggi, dengan ketidakjelasan mengenai implementasi teknisnya.
Detail Kesepakatan dan Cadangan Raksasa
Gedung Putih mengungkapkan bahwa kesepakatan ini memberikan pemerintah AS 35 persen saham di suatu perusahaan produksi minyak Venezuela. Perusahaan tersebut memperoleh kontrak untuk mengoperasikan 17 lapangan minyak dengan perkiraan cadangan sekitar 65 miliar barel. AS juga akan mempertahankan hak untuk membeli minyak yang diekstraksi tersebut.
Meskipun perjanjian yang diumumkan pada Jumat (28/8) malam ini memicu potensi lonjakan investasi, para analis mengatakan minyak mentah baru dalam jumlah besar tidak akan mengalir keluar dari Venezuela selama bertahun-tahun. Respons pasar pun cenderung dingin. Harga minyak justru mengalami kenaikan pada akhir pekan setelah pengumuman tersebut.
Trump menyebutnya sebagai Kesepakatan Minyak Terbesar dalam Sejarah Dunia dan berjanji akan menurunkan harga bensin secara substansial bagi warga Amerika. Namun, Tracy Shuchart, ekonom senior di platform perdagangan berjangka NinjaTrader, menyatakan di media sosial X bahwa dampak nyata pada harga pompa bensin AS mungkin baru terasa 5 hingga 15 tahun ke depan.
Tantangan Produksi dan Pengisian Cadangan Darurat
Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, menyatakan proyek ini ditandatangani untuk jangka waktu 25 tahun dengan target produksi mencapai lebih dari 1,5 juta barel per hari. Sebagai perbandingan, industri minyak global memproduksi sekitar 105 juta barel per hari.
Mark Finley dari Rice University’s Baker Institute mencatat bahwa peningkatan produksi di Venezuela tidak akan terjadi dengan cepat. "Ini bukan tentang peningkatan yang cepat," ujarnya.
Salah satu poin krusial dalam lembar fakta Gedung Putih ialah jaminan bagi AS untuk membeli setidaknya 20 persen dari seluruh minyak yang diproduksi sesuai biaya produksi guna mengisi kembali Cadangan Minyak Strategis (SPR). Saat ini, stok SPR AS berada di level terendah sejak 1982, yakni hanya 287 juta barel dari kapasitas 714 juta barel.
Kendala Teknis: Minyak mentah dari Venezuela memiliki karakteristik yang jauh lebih berat dibandingkan minyak yang saat ini disimpan di SPR, sehingga memerlukan kilang AS khusus untuk memprosesnya.
Keterlibatan Pentagon dan Sosok Kontroversial
Pemerintah AS menyatakan akan mengambil saham melalui kantor di Pentagon yang bekerja dengan perusahaan swasta untuk mempercepat investasi rantai pasokan. Namun, peran pasti Pentagon masih menjadi misteri bagi para pelaku industri.
Perusahaan Venezuela yang terlibat ialah North American Blue Energy Partners (NABEP), perusahaan minyak swasta terbesar kedua di negara itu yang dikendalikan oleh Alejandro Betancourt. Betancourt, yang membangun kekayaannya sejak era Hugo Chavez, pernah menghadapi penyelidikan pencucian uang di beberapa negara, termasuk AS dan Swiss.
Meskipun Departemen Kehakiman AS pernah mencantumkan namanya sebagai konspirator yang tidak didakwa dalam kasus kriminal tahun 2018 dan 2024, AS justru memberikan visa masuk bagi Betancourt untuk pertemuan resmi dan kini menandatangani perjanjian jangka panjang dengan perusahaannya.
Risiko Politik dan Kritik Domestik
Kesepakatan ini juga menghadapi tantangan politik. Terdapat perbedaan informasi mengenai durasi kontrak yaitu Gedung Putih menyebut 100 tahun, sementara Rodriguez menyebut 25 tahun. Ketidakpastian ini menjadi pertimbangan besar bagi perusahaan minyak raksasa seperti Exxon untuk ikut berinvestasi.
Di dalam negeri, Partai Demokrat mulai menyuarakan penolakan. Senator Chris Van Hollen mengkritik keras langkah ini melalui platform X, menyebutnya sebagai bukti bahwa Trump menempatkan kepentingan militer dalam risiko demi menguntungkan rekan-rekan miliardernya melalui minyak Venezuela.
Bagi warga Venezuela, kesepakatan ini memicu kekhawatiran tentang konsolidasi kekuasaan Rodriguez dan potensi praktik kolonialisme modern di mana sumber daya alam dikendalikan oleh pihak asing melalui kesepakatan yang dianggap tidak transparan. (The Washington Post/I-2)


















































