Iran.(Freepik)
OTORITAS Amerika Serikat selama beberapa pekan telah mendesak Uni Emirat Arab (UAE) untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran, demikian dilaporkan The Wall Street Journal pada Kamis (20/8) yang mengutip sejumlah sumber.
Pada Selasa (18/8), Direktur Departemen Komunikasi Strategis Kementerian Luar Negeri UAE, Afra Al Hameli, mengatakan bahwa UEA telah menghentikan aktivitas perdagangan dan keuangan dengan Iran.
Menurut sumber yang dikutip The Wall Street Journal, otoritas UAE khawatir bahwa strategi Washington untuk meningkatkan tekanan ekonomi kepada Iran dapat berdampak buruk terhadap sejumlah sektor ekonomi negara-negara Teluk yang bergantung pada pariwisata dan perdagangan, bukan minyak.
Kendati demikian, beberapa pejabat UAE dikabarkan ingin tetap mempertahankan jalur komunikasi dengan Teheran agar dapat menggunakan instrumen diplomatik jika operasi AS yang menekan ekonomi Iran tidak berhasil.
Sebelumnya pada hari yang sama, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa Teheran tidak memanfaatkan kesempatan untuk mencapai kesepakatan dengan Washington. Karena itu, AS meluncurkan operasi ekonomi berskala besar terhadap Republik Islam Iran.
Lalu pada Rabu (19/8), Trump mengumumkan apa yang disebutnya sebagai “operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan terhadap negara mana pun”, sekaligus meningkatkan kampanyenya untuk mengisolasi Iran, serta memperingatkan negara lain dan perusahaan yang membantu Teheran bahwa mereka akan menghadapi konsekuensi ekonomi berat.
Trump mengatakan AS akan berupaya memutus jalur keuangan dan perdagangan yang memberikan dukungan ekonomi kepada Iran. “Hari ini, saya juga mengumumkan bahwa setiap negara yang mengizinkan lembaga keuangan, perusahaan, bandara, atau entitas pemerintahnya memberikan bantuan dalam bentuk apa pun kepada Iran akan menghadapi konsekuensi ekonomi yang sangat besar,” tambahnya. (Ant/P-3)













































