Warga Alasmalang Sulap Limbah Kulit Durian Jadi Produk Bernilai Ekonomi

1 hour ago 6
Warga Alasmalang Sulap Limbah Kulit Durian Jadi Produk Bernilai Ekonomi Ilustrasi(Dok Istimewa)

WARGA Desa Alasmalang, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah memanfaatkan limbah kulit durian. Mereka mengubah kulit tersebut menjadi berbagai produk bernilai ekonomi.

Kulit durian diolah menjadi serat yang dapat digunakan sebagai bahan isian bantal, gantungan kunci, media tanam, hingga bahan penyerap minyak. Sementara bagian lain dari buah tersebut dimanfaatkan untuk membuat keripik kulit durian, basreng biji durian, serta dodol dari buah durian berkualitas rendah.

Ketua Pokdarwis Alasmalang, Roniyah, mengatakan inovasi pengolahan limbah tersebut muncul karena banyaknya kulit durian yang dihasilkan saat musim panen.

"Daripada yang tadinya tidak ada nilai ekonomisnya sama sekali, dibuang dan bisa jadi sampah berbahaya, sekarang kami punya nilai ekonomisnya," kata Roniyah saat ditemui di Pusat Edukasi Pengolahan Limbah Kulit Durian Desa Alasmalang. 

Kulit durian yang terkumpul terlebih dahulu dicacah menggunakan mesin hingga menjadi serat. Setelah dikeringkan, serat tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, antara lain sebagai bahan isian bantal dan gantungan kunci.

Salah satu produk suvenir berupa gantungan kunci bergambar durian dijual dengan harga Rp10.000 per buah. Produk tersebut banyak dibeli wisatawan yang berkunjung ke Alasmalang, yang dikenal sebagai salah satu sentra durian di Banyumas.

Pemanfaatan serat kulit durian juga dikembangkan untuk media tanam dan oil absorbent atau bahan penyerap minyak. Produk tersebut bahkan dipasok untuk kebutuhan PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Maos di Kabupaten Cilacap.

Selain diolah menjadi serat, bagian dalam kulit durian yang berwarna putih juga dimanfaatkan sebagai bahan dasar keripik. Kulit tersebut dicampur dengan tepung dan bumbu sebelum digoreng hingga menghasilkan makanan ringan yang renyah.

Tidak hanya kulit, buah durian yang tidak memenuhi standar penjualan juga turut dimanfaatkan. Durian grade C yang sebelumnya berpotensi terbuang diolah menjadi dodol, sedangkan bijinya dimanfaatkan sebagai bahan baku basreng.

Produk-produk tersebut dijual dengan harga bervariasi. Keripik kulit durian dibanderol Rp15.000 untuk kemasan 250 gram, basreng biji durian Rp20.000, sedangkan dodol durian dijual sekitar Rp80.000 per kilogram.
Menurut Roniyah, pemasaran dilakukan melalui outlet milik kelompok maupun platform marketplace.

Kepala Desa Alasmalang, Katam, mengatakan persoalan limbah kulit durian telah dihadapi warga selama bertahun-tahun. Sebagai desa sentra durian, produksi limbah meningkat seiring bertambahnya hasil panen. "Dalam setahun limbah kulit durian sebanyak 6 ton, bahkan sekarang karena panennya semakin banyak bisa sampai 16 ton per tahun," ujar Katam.

Sebelum dimanfaatkan, kulit durian umumnya dibuang di pekarangan, selokan, hingga sungai. Penumpukan limbah tersebut kemudian menimbulkan persoalan lingkungan, termasuk memicu banjir. "Karena belum tahu fungsi dan manfaatnya, banyak kulit durian dibuang ke selokan, akhirnya terjadi luapan sungai yang berdampak pada ratusan kepala keluarga," katanya.

Perubahan mulai terjadi setelah Desa Alasmalang ditetapkan sebagai bagian dari Program Kampung Iklim (ProKlim). Warga kemudian mulai mencari cara untuk mengolah limbah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Pada 2024, warga mengawali upaya tersebut dengan mengolah durian grade C menjadi dodol. Durian yang tidak memenuhi standar penjualan sebelumnya hanya memiliki nilai jual sekitar Rp10.000.

Pengembangan pengolahan limbah selanjutnya dilakukan melalui kerja sama pemerintah desa dengan Pemerintah Kabupaten Banyumas, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), serta Pertamina. Dari kerja sama tersebut, warga mengembangkan pemanfaatan kulit durian menjadi serat dan berbagai produk olahan.

Katam mengatakan penelitian bersama perguruan tinggi juga menunjukkan adanya kandungan pada limbah kulit durian yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pupuk.

Ke depan, pemerintah desa berharap potensi durian dapat dikembangkan lebih luas, tidak hanya sebagai komoditas buah, tetapi juga sebagai sumber berbagai produk olahan. "Harapannya nanti ke depan kami mau bikin kayak pusat jajanan rakyat dari durian di sini," kata Katam.

Program pengelolaan limbah tersebut melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari Pokdarwis, Karang Taruna, BUMDes, hingga Kelompok Wanita Tani (KWT). “Secara keseluruhan, kegiatan tersebut melibatkan lebih dari 100 warga,”jelasnya. (H-2)
 

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |